Menjemput Penat ke Negeri Jiran
Nasib Wartawan 20 Tahun Mendatang
Pengantar
Serombongan Wartawan Sumbar melakukan lawatan ke negeri jiran Malaysia. Jadwal 7 sampai 9 Desember 2019 itu, boleh dikatakan jadwal terpadat dan penat. Namun sempat juga melihat sejumlah ojek wisata yang perlu ditiru Sumbar. Inilah catatan Zulnadi ke negara tetangga itu.Redaksi.
Bagaikan penganten, rombongan Wartawan Sumbar itu tak boleh banyak tingkah. Mau diperbagaikan tukang rias, silakan saja. Sebab dari awal tak dilibatkan atur acaranya oleh penggagas.
Dari Padang kita ditemani Devi pemilik Skiling Tour, sedangkan di Malaysia sudah ada pemandu bernama Mawar yang berbadan gemuk itu.
Devi meminta, rombongan sudah harus berada di Bandara Internasional Minangkabau-BIM pukul 6 pagi. Bagi yang terlambat resiko sendiri. Untung tidak ada yang terlambat.
Bahkan menghindari terlambat, sholat subuhnya di bandara. Meskipun diketahui kemudian pesawat yang ditumpangi take off pukul 8.30 wib.
Nasib.. Inilah kalau sudah ada yang mengatur semua. Rombongan bak kerbau dicucuk hidung saja. Di Bim sudah disediakan menu sarapan.
Pendamping Devi tak bosan bosan mengingatkan agar jangan lupa bawa paspor.

Tak ada paspor atau lupa membawanya, karena bergegas gegas, jangan harap bisa terbang.
Rombongan juga diingatkan jumlah rokok bawaan yang dibenarkan. Untuk Malaysia boleh satu slove, tapi ke Singapura, jangan coba coba. Disita dan denda dengan dolar Singapura.
Lama tempuh penerbangan Padang-Kuala Lumpur hanya 45 menit. Tak terasa pesawat Sky Air telah mendarat di KLA. Dilihat dari udara bandara KLA dikelilingi hijaunya kebun sawit. Malaysia selain terkenal penghasil karet juga Sawit yang juga telah ekspansi ke Indonesia (Sumbar).
Malaysia baru Merdeka tahun 1957 tapi perkembangannya tak sebanding dengan Indonesia yang lebih duluan merdeka 1945.
Negeri jajahan Inggris ini lebih beruntung karena penjajah meninggalkan sesuatu yang berguna bagi penduduknya. Tak sama dengan Indonesia dijajah Belanda 3,5 abad dan Jepang 3,5 tahun. Semua ekonomi Indonesia luluh lantak dibawa ke negaranya.
Di Malaysia, pajak semasa penjajahan dikembalikan dalam bentuk bangunan infrastruktural, fasilitas umum lainnya.
Oleh karena itu, 3 tahun setelah merdeka, Malaysia pinjam guru dan tenaga lainnya untuk mulai membangun SDMnya.
Lalu 20 tahun kemudian justru Indonesia yang belajar ke Semenanjung Malaysia.
Kembali ke perjalan rombongan PWI Sumbar. Begitu mendarat di KLA, usai pemeriksaan imigrasi, Mawar sebagai pemandu di Malaysia, telah mengambil alih atur acara.
Bus besar telah menunggu untuk membawa rombongan selama 3 hari perjalanan yang sangat melelahkan itu.

“Bapak-bapak, ibu- ibu, kita dari sini (bandara) menuju Kuala Lumpur sekitar 45 menit. Foto foto di menara kembar Petronas, lalu makan siang,” ujar Mawar.
Tak jauh dari menara kembar, sudah ada kedai siap saji dengan ambil sendiri sendiri.
Yang perokok biasanya cepat makan, lalu mencari tempat yang dibolehkan merokok. Di Malaysia tak boleh merokok sembarangan, ketahuan denda sampai ribuan Ringgit Malaysia.
“Yo tersiksa awak,” ketus Edi Jarot yang pemimpin Redaksi Koran Padang itu. Bersama Edi ada juga perokok lainnya, Alwi Karmena, Ketua PWI Heranof, Hasril Chaniago, Nofi Sastra, Khairul Jasmi, Widya Navis, Bambang Irianto. Syukri Umar, sesekali juga bergabung.
Rombongan ahli hisap ini segera saja menyatu, manakala bus berhenti di salah satu rest area. Nikmat, meskipun dengan waktu terbatas. Itulah candu.
Cik Mawar, membawa rombongan ke tempat pengelola coklat. Harganya selangit dengan alasan olahan coklat asli dan berkualitas.
Orang beli, kita beli, orang belanja, kita belanja. Orang belanja banyak, kita sedikit saja sebagai buah tangan. Coklat ini ibarat mempunyai kelapa condong, batang di awak buah sama orang. Coklat di Malaysia itu bahan bakunya dari Sumbar, lalu diolah dan dijual mahal.
Di toko coklat ini bermacam produk, ada pula coklat “tongkat ali”. Untuk apa ini, katanya penambah tenaga. Ah masa iya.
Selama di Kuala Lumpur, rombongan melihat objek wisata batu cave yang berada di Selangor.
Gua Batu

