Meski Dihantui Warrant ICC, Benjamin Netanyahu Tegaskan Tetap ke New York

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Meski menghadapi ancaman penangkapan oleh otoritas di New York, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan tetap akan berkunjung ke kota tersebut. Pernyataan ini disampaikan secara terbuka meskipun ada komitmen dari calon wali kota New York, Zohran Mamdani, untuk menegakkan surat perintah dari International Criminal Court (ICC).

Dalam wawancara virtual di forum DealBook yang diselenggarakan oleh The New York Times pada Rabu (3 Desember 2025), Netanyahu menegaskan dengan lugas, “Ya, saya akan datang ke New York.” Pernyataan itu sekaligus menepis kekhawatiran terkait kemungkinan penangkapan saat tiba di kota tersebut.

Ia mengaku tak gentar meskipun ada pernyataan dari Zohran Mamdani yang berjanji akan menggunakan kewenangan hukum untuk menangkapnya. Netanyahu bahkan menyebut ancaman itu sebagai sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan secara serius.

Mamdani sendiri sebelumnya telah menyatakan, jika tetap Presiden Israel itu datang ke kota yang akan dipimpinnya, New York harus menghormati surat ICC dan menegakkan hukum internasional. Namun banyak pakar hukum menilai bahwa ancaman penangkapan seperti itu sulit ditindaklanjuti, mengingat status hukum dan diplomatik serta posisi Amerika Serikat terhadap ICC.

Sebagai latar belakang, ICC sejak 2024 telah mengeluarkan surat perintah terhadap Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang di Gaza. Meskipun demikian, Israel dan Amerika Serikat bukan negara anggota ICC, sehingga efektivitas surat perintah tersebut dalam yurisdiksi AS dipandang sangat terbatas.

Belakangan, terungkap bahwa dalam perjalanan ke AS sebelumnya, pesawat yang membawa Netanyahu sengaja memilih jalur memutar untuk menghindari wilayah udara negara-negara anggota ICC di Eropa. Ini menunjukkan kekhawatiran nyata atas kemungkinan penangkapan bila transit secara normal lewat wilayah yang terikat kewajiban ICC.

Meski ada tekanan politik dan hukum, Netanyahu menunjukkan sikap tenang. Dalam wawancaranya, ia bahkan menyatakan terbuka untuk bertemu Mamdani—“jika dia berubah pikiran dan mengakui hak eksistensi Israel” — sebagai bagian dari upaya diplomasi.

Kabar ini langsung memicu gelombang reaksi dari berbagai pihak. Bagi pendukungnya, kunjungan ke New York merupakan bagian dari agenda diplomasi internasional dan tidak seharusnya dikaitkan dengan politik domestik kota. Sedangkan bagi kritikus, keputusan ini dianggap provokatif dan mempertebal kontroversi legal atas tindakannya di Gaza.

Skenario penangkapan tetap dianggap sulit oleh sebagian besar pengamat karena kompleksitas hukum internasional, status diplomatik, serta posisi AS terhadap ICC. Hal ini membuat ancaman menjadi lebih simbolis — namun tetap sarat nilai politik dan diplomasi.

Kunjungan ini diperkirakan akan menarik sorotan global — bukan hanya terhadap karier politik Netanyahu, tapi juga legitimasi hukum internasional, peran ICC, serta masa depan politik global di tengah konflik Gaza yang masih bergolak.

Langkah Netanyahu menunjukkan bahwa, dalam pusaran konflik hukum dan politik internasional, strategi diplomasi dan keberanian politis sering kali berjalan beriringan — dengan risiko dan ketidakpastian yang sama besarnya.

Ke depan, perhatian dunia akan tertuju pada setiap langkah Netanyahu di New York. Bagaimana ia menavigasi situasi hukum, politik lokal, dan agenda diplomasi internasional akan menjadi sorotan utama, yang bisa memengaruhi posisi politiknya serta persepsi global terhadap Israel.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.