Militer Sudan Tepis Tawaran Gencatan Senjata, Siap Lanjutkan Serangan ke RSF

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Kepemimpinan militer Sudan melalui Dewan Pertahanan Nasional menegaskan penolakan terhadap tawaran gencatan senjata yang digagas oleh pihak internasional, memilih untuk meneruskan operasi militer terhadap Rapid Support Forces (RSF).

Surat keputusan Dewan yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al‑Burhan menyebut bahwa gencatan senjata dianggap tidak akan menyelesaikan akar konflik dan bahkan bisa memberikan waktu bagi RSF untuk menguatkan posisi.

Al‑Burhan dalam pernyataannya menyatakan bahwa militer akan “menggerakkan seluruh rakyat Sudan” untuk mendukung perang melawan RSF sebagai bagian dari mobilisasi nasional.

Keputusan ini muncul menyusul perebutan kota El Fasher di wilayah Darfur oleh RSF, yang dianggap militer sebagai simbol melemahnya kontrol pemerintah atas kawasan barat negara tersebut.

Meski RSF dilaporkan telah menerima skema gencatan senjata selama tiga bulan yang diajukan oleh Amerika Serikat dan sekutu Arab, militer Sudan memilih jalur berbeda — yakni hanya akan berhenti jika RSF menyerahkan senjata dan mundur dari pemukiman sipil.

Analisis pengamat menyebut bahwa penolakan ini menandai eskalasi konflik yang lebih jauh, karena kedua pihak tampak tidak berada di jalur yang sama untuk menghentikan pertempuran. Situasi kemanusiaan di negara itu semakin memburuk akibat konflik yang berkepanjangan.

Dalam praktiknya, penolakan gencatan senjata bisa memperpanjang konflik, memperbanyak korban sipil, dan memperluas wilayah yang menjadi medan tempur. Organisasi kemanusiaan telah memperingatkan lonjakan kebutuhan darurat dan pengungsian massal.

Militer juga menyebut bahwa gencatan senjata yang ditawarkan sebenarnya merupakan “agenda asing” yang bertujuan mengintervensi kedaulatan Sudan. Pernyataan ini menunjukkan kedalaman ketidakpercayaan pihak militer terhadap mediator internasional.

Bagi warga Sudan, khususnya di Darfur dan sepanjang front barat, keputusan ini menimbulkan kecemasan akan serangan lanjutan, pemboman, serta potensi eskalasi di lingkungan sipil yang sudah rapuh. Banyak yang telah kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam kondisi genting.

Dengan pilihan melanjutkan perang, militer Sudan menghadapi tantangan besar: bukan hanya di medan tempur, tetapi juga dalam mempertahankan logistik, moral pasukan, dan dukungan publik yang makin tergerus oleh dampak kemanusiaan yang keras.

Konflik yang kian dalam ini mengangkat pertanyaan tentang masa depan Sudan — apakah perang ini akan berakhir melalui diplomasi, ataukah konflik akan berubah menjadi stagnasi berdarah tanpa jalan keluar jelas di cakrawala.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.