HM Nurnas: Mindset Pemerintah untuk TdS Kedepan Harus Dirombak

oleh -

Semangatnews,Padang-Usai sudah gelaran Tour de Singkarak (TdS ke 10, tapi ephoria dan menjadi buah sebut berpacu kitangin internasional itu pun berhenti hingga garis finish kemarin di Pariaman, hari selanjutnya TdS sepi dari ota lapau karakter kas urang minang.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumbar HM Nurnas memberikan masukan dan kritikan terkait TdS selanjutnya. Wakil rakyat putera asli Piaman itu menyorot bahwa pelaksanaan TdS sudah tahun ke sepuluh, baru sebatas rutinitas tahunan pembalap dunia mengaspal di jalanan Sumbar.

“Saya dengar dan lihat gelaran TdS selalu mengundang pro-kontra, bagi yang pro karena memahami bahwa TdS telah menjelma jadi ikon dari banyak ikon Sumbar, dan berdampak kepada pariwisata Sumbar,”ujar HM Nurnas, Kamis 15/11/2018 di Padang.

Tapi bagi yang kontra perkiraan bisa mencapai 55 persen menurut HM Nurnas mungkin ingin dampak TdS terasa segera oleh masyarakat.

“Apalagi masyarakat sudah merelakan mobilitas mereka terhambat saat pembalap berpacu di jalanan yang masyarakat lewati,”ujar Anggota Komisi I DPRD Sumbar ini.

Semula, kata Nurnas, semangat TdS sebagai kolaborasi olahraga dan pariwisata itu porsi besar pembiayaan dari APBN, daerah sebagai suporting dana pendukung.

“Tapi pada gelaran TdS ke 10 tahun 2018, tidak ada dukungan APBN pelaksanaannya sekarang murni didanai provinsi dan kota serta kabupaten yang dilewati,” ujarnya.

Meski begitu Nurnas mengakui kalau TdS 1 sampai enam, ada banyak efek kepada masyarakat luas.

Seperti adanya peningkatan jalan yang menjadi rute TdS meski perbaikan jalan dengan cara penambahan lapisan aspal tidak bertahan lama, tetap saja masyarakat daerah dilewati TdS beri acungan jempol, lalu ephoria ber-TdS lama terasa di Sumbar, waktu itu.

“Kondisi terbalik justru terjadi pada pelaksanaa TdS tujuh hingga ke 10 tahun ini. Ephoria menyusut justru yang muncul keluhan masyarakat karena macet dan stopnya mobilitas rakyat saat pembalap berpacu, laju jalan ditutup,” ujar Nurnas.

Bahkan rasa ber-TdS di Sumbar pada gelaran ke 10 semakin memudar, tidak bergetar atau kata Nurnas nggak gregetan lagi istilah anak jaman now.

“Gelaran balap sepeda internasional itu tidak terasa, bahkan waktu pelaksanaan seperti cepat berlalu. Masyarakat menyambut dingin pelaksanaan TdS yang menjadi ikon kompetisi internasional di Sumbar termasuk pemberitaan media yang hanya terkesan sekedar saja,” ujar Nurnas.

Padahal kata HM Nurnas yang tercatat di dokumen KPU sebagai Caleg DPRD Sumbar Dapil Sumbar 2 (Pariaman-Padang Pariaman), fraksinya sangat mendukung pelaksanaan TdS berkelanjutan.

“Tapi pemerintah harus melakukan evaluasi mulai soal ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata
Harus ada data konkrit dampak TdS, apa betul menambah kunjungan wisata ke Sumbar, itu bisa dibandingkan dengan tingkat hunian hotel,” ujar Nurnas.

Juga evaluasi terkait pasca ivent di kota dan kabupaten apakah ada peningkatan produksi lokal di daerah start. Termasuk catatan pada TdS 2018 tidak terjadi peningkatan kualitas jalan

“Apalagi yang memiriskan, 10 kali balap sepeda dunia mengaspal di Sumbar, belum pernah pembalap asli Sumbar menaiki podium. Padahal, sejarah berpacu kitangin (sepeda) ini pembalap Sumbar pernah menorehkan prestasi nasional dan ASEAN, sepertinya iven dunia tidak melecut memotivasi munculnya pembalap handal di daerah ini,”ujar Nurnas.

Mestinya ada niat, tekad dan semangat, kalau TdS di Sumbar pembalap daerah ini tidak menjadi penonton saja.

“Jangan jadikan iven internasional Sumbar hanya kebagian tempat start dan finis serta namanya saja. Harus ada evaluasi sebelum TdS ke 11, selanjutnya ada tim balap Sumbar yang bisa mengenakan yellow jersey atau bahkan mininmal merah putih jersey,” ujar Nurnas.

Menurut Nurnas, dia sudah lama nyinyir membicarakan soal TdS, tapi tidak untuk hentikan TdS.

“Sejak TdS ke dua hingga ke 10 saya ingin ada evaluasi kelanjutan TdS untuk pelaksanaan yang lebih baik,” ujarnya.

Mindset pemerintah kata Nurnas harus dirubah juga, jangan TdS andalkan APBD saja mestinya harus ada tim kreatif untuk menggaet sponsorship.

“Jangan sponsornya sponsor tradisionil saja, kalau tidak Semen Padang pasti Bank Nagari, tapi TdS ajang balap dunia, kok sponsornya handalkan itu saja,” ujar HM Nurnas.

Dan politisi Partai Demokrat ini juga menekankan evaluasi TdS dan kelanjutan 2019 jangan tunggu tiga bulan iven itu mau digelar.

“Tapi begitu usai ivent ke 10, pemerintah sudah lakukan evaluasi dan sampaikan hasil evaluasi itu ke masyarakat, dan langsung siapkan pelaksana iven tahun depan, dengan kerja terencana dan terukur, juga ada tim task force untuk membentuk tim balap Sumbar,” ujarnya.