Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak mentah dunia kembali berada di atas US$100 per barel setelah mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar menghadapi sejumlah kabar mengenai pasokan bahan bakar dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Kontrak Brent untuk pengiriman Desember 2026 melonjak 4,37 persen menjadi US$102,31 per barel. Pada saat yang sama, kontrak WTI untuk pengiriman November naik 2,71 persen ke level US$92,87 per barel.
Kenaikan Brent lebih dari US$4 dalam sehari menjadi perhatian karena berlangsung setelah harga minyak sebelumnya telah mengalami penguatan sepanjang September. Brent tercatat naik sekitar 14 persen sepanjang September, sedangkan WTI bertambah sekitar 4 persen pada periode yang sama.
Salah satu pemicu utama datang dari perkembangan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Laporan mengenai pengerahan kapal induk tambahan dan ribuan personel ke kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat kembali meningkat.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan masih harus mengambil keputusan terkait perkembangan dengan Iran. Pernyataan tersebut ikut menjadi perhatian pasar karena konflik yang melibatkan negara-negara di kawasan penghasil minyak dapat berdampak terhadap distribusi energi global.
Kekhawatiran pasar semakin besar karena terdapat laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Jalur tersebut memiliki posisi penting dalam perdagangan energi internasional sehingga gangguan pelayaran dapat meningkatkan risiko keterlambatan pengiriman minyak dan produk bahan bakar.
Pada saat yang sama, China mengambil langkah yang turut memengaruhi sentimen pasar. Sejumlah kilang di negara tersebut disebut tidak memperoleh izin untuk mengekspor produk bahan bakar ke luar Hong Kong dan Makau selama Oktober. Belum diketahui apakah izin ekspor akan kembali diberikan setelah libur nasional berakhir pada 7 Oktober.
Kebijakan China tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar produk olahan. Pembatasan ekspor dapat mengurangi pasokan yang tersedia untuk pasar internasional pada saat sejumlah negara juga menghadapi kondisi persediaan diesel yang relatif ketat.
Amerika Serikat juga dilaporkan mendorong negara-negara Eropa untuk menggunakan sebagian cadangan diesel darurat guna membantu meredam tekanan harga bahan bakar. Salah satu sumber yang dikutip Reuters menyebut AS meminta Uni Eropa melepaskan sekitar 120 juta barel diesel dalam enam bulan.
Meski demikian, tidak seluruh indikator menunjukkan tekanan pasokan yang semakin parah. Ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah mulai membaik, sementara Arab Saudi kembali melakukan pemuatan kapal tanker dari pelabuhan Yanbu setelah mengaktifkan kembali operasi jalur pipa yang menghubungkan wilayah timur dan barat negara tersebut.
Pada Jumat (2/10/2026), harga minyak kemudian bergerak lebih terbatas. Brent naik 0,28 persen menjadi US$102,60 per barel dan WTI bertambah 0,29 persen menjadi US$93,14 per barel, setelah sehari sebelumnya mengalami lonjakan besar.
Pergerakan harga minyak berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan pasokan dan geopolitik. Pasar akan mencermati kebijakan ekspor China, kondisi pengiriman energi melalui Timur Tengah, serta perkembangan hubungan AS dan Iran yang dapat memengaruhi persepsi risiko di pasar minyak global.(*)

