Jakarta, Semangatnews.com – Pengumuman terbaru dari Muhammadiyah soal awal bulan Ramadan menarik perhatian umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan hisab atau perhitungan astronomi yang mereka gunakan. Keputusan ini disampaikan setelah kajian intensif yang dilakukan oleh para ahli hisab Muhammadiyah, dan segera viral di media sosial maupun forum diskusi keagamaan.
Penetapan awal Ramadan oleh Muhammadiyah ini tentu menjadi referensi bagi jutaan pengikutnya di seluruh nusantara. Organisasi Islam yang telah puluhan tahun dikenal memiliki metode hisab yang mapan sejak era awal kemerdekaan tersebut menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar angka, tetapi telah melalui proses perhitungan ilmiah yang mempertimbangkan posisi hilal, waktu matahari terbenam, dan kriteria perhitungan yang baku menurut tradisi keilmuan mereka.
Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama akan menetapkan awal Ramadan setelah menggelar sidang isbat yang rencananya berlangsung beberapa hari sebelum tanggal yang diperkirakan. Sidang isbat ini melibatkan tokoh agama, ahli hisab dan rukyat, serta unsur pemerintah untuk mencapai kesepakatan nasional yang komprehensif. Hingga berita ini ditulis, jadwal pastinya masih menunggu pengumuman resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sidang isbat menjadi tradisi tahunan yang diselenggarakan pemerintah untuk menentukan secara resmi awal bulan suci bagi seluruh umat Muslim di Indonesia. Keputusan sidang isbat biasanya mempertimbangkan hasil rukyat (pengamatan hilal secara visual) yang dilakukan di berbagai titik wilayah Indonesia, sehingga keputusan yang dihasilkan bersifat representatif bagi keseluruhan bangsa.
Respon publik terhadap pengumuman Muhammadiyah ini beragam. Sebagian umat menyambut dengan antusias dan menyatakan kesiapan menyambut Ramadan pada tanggal yang ditetapkan Muhammadiyah, terutama karena sudah terkalkulasi secara ilmiah. Namun sebagian lainnya memilih menunggu hasil sidang isbat pemerintah sebagai penentu akhir, karena keputusan tersebut akan menjadi acuan resmi yang berlaku secara nasional.
Para tokoh agama pun memberikan pandangannya masing‑masing. Beberapa menyatakan bahwa perbedaan dalam penetapan awal Ramadan bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan secara emosional, tetapi justru menjadi ruang dialog ilmu pengetahuan dan tradisi keagamaan. Mereka mendorong umat untuk saling menghormati meskipun mungkin mengikuti otoritas yang berbeda, selama niatnya untuk ibadah tetap tulus.
Metode hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah diyakini cukup akurat oleh para pengikutnya, terutama karena telah berakar dalam tradisi panjang keilmuan Islam yang menggabungkan matematika, astronomi, dan tafsir syariah. Muhammadiyah menilai bahwa perhitungan yang matang dapat membantu umat mempersiapkan diri secara mental dan spiritual menjelang bulan puasa tanpa ketergantungan penuh pada rukyat yang belum tentu berhasil di setiap kondisi cuaca.
Namun sebagian pengamat menyebutkan bahwa sidang isbat tetap penting karena ia melibatkan pengamatan visual hilal sebagai bagian dari tradisi rukyat yang dijalankan secara kolektif. Menurut mereka, kombinasi hisab dan rukyat bisa membawa keseimbangan antara pendekatan ilmiah dan semangat kebersamaan umat dalam menentukan awal bulan.
Disadari atau tidak, dinamika penetapan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah ini membuka ruang diskusi yang sehat soal bagaimana umat Muslim di Indonesia memadukan ilmu dan praktik tradisional. Banyak pihak berharap agar perbedaan ini tidak menjadi pemecah semangat ukhuwah, tetapi justru menjadi momentum memperkaya pemahaman bersama tentang agama dan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, sejumlah wakil komunitas Muslim di berbagai daerah sudah mulai mempersiapkan kegiatan Ramadan termasuk jadwal puasa, jadwal imsak serta sahur bersama, serta program sosial kemasyarakatan seperti buka puasa bersama dan santunan untuk kaum dhuafa. Persiapan ini dilakukan sambil menunggu kepastian resmi tanggal dari pemerintah.
Sedikit berbeda, sebagian kalangan generasi muda menyikapi fenomena ini sebagai peluang untuk memahami lebih dalam soal metodologi hisab dan rukyat lewat berbagai diskusi online, video pembelajaran, maupun kajian lintas organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan awal Ramadan tidak hanya soal tanggal, tetapi juga ruang edukasi keagamaan yang terus berkembang.
Menjelang sidang isbat yang akan digelar pemerintah, jamaah dan masyarakat dari berbagai latar belakang diperkirakan akan menunggu keputusan resmi dengan harapan agar bulan suci Ramadan — sebagai momentum refleksi spiritual dan kebersamaan — dapat dimulai secara serentak di seluruh Indonesia dan membawa keberkahan bagi seluruh umat.(*)
