Jakarta, Semangatnews.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan kesiapannya untuk membuka jalur negosiasi dengan Lebanon di tengah konflik yang terus memanas. Namun, ia menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak akan disertai penghentian serangan secara otomatis.
Pernyataan ini muncul saat tekanan internasional meningkat agar konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah segera dihentikan. Netanyahu menyebut negosiasi tetap penting, tetapi harus memenuhi sejumlah syarat utama dari pihak Israel.
Salah satu fokus utama dalam negosiasi itu adalah pelucutan senjata Hizbullah. Israel menilai kelompok tersebut sebagai ancaman utama terhadap stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.
Selain itu, Netanyahu juga menargetkan pembentukan hubungan damai jangka panjang antara Israel dan Lebanon. Ia menilai diplomasi bisa menjadi solusi, meski situasi di lapangan masih jauh dari kondusif.
Meski membuka peluang dialog, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel akan tetap berjalan. Ia bahkan secara tegas menyatakan tidak ada gencatan senjata saat ini di Lebanon.
Langkah ini menuai kritik dari berbagai pihak internasional yang menginginkan penghentian kekerasan segera. Banyak negara menilai negosiasi seharusnya dilakukan bersamaan dengan jeda konflik.
Di sisi lain, Lebanon justru menginginkan gencatan senjata sebagai syarat awal sebelum pembicaraan dimulai. Perbedaan posisi ini menjadi tantangan besar dalam proses diplomasi.
Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas sejak awal Maret 2026. Serangan balasan dari kedua pihak menyebabkan ribuan korban dan jutaan warga mengungsi.
Serangan udara Israel dilaporkan telah menewaskan banyak orang serta menghancurkan sejumlah wilayah di Lebanon. Situasi kemanusiaan pun semakin memburuk.
Meski demikian, sejumlah pihak internasional masih melihat peluang diplomasi terbuka. Upaya mediasi terus dilakukan untuk mendorong kedua pihak menuju meja perundingan.
Rencana negosiasi ini diperkirakan akan segera dimulai dalam waktu dekat. Namun, tanpa kesepakatan awal terkait gencatan senjata, proses tersebut diprediksi tidak akan berjalan mudah.(*)

