Pameran Keramik Kuno dan Pecahannya Akibat Gempa di Museum Adityawarman Sumbar, Tema “Retakan Bertutur, Menjaga Warisan, Membingkai Masa Lalu”

by -
Pameran Keramik Kuno dan Pecahannya Akibat Gempa di Museum Adityawarman Sumbar, Tema “Retakan Bertutur, Menjaga Warisan, Membingkai Masa Lalu”
Peneliti dan kurator Pameran Keramik Aurora Murnayati Arby sedang memaparkan isi pameran keramik dihadapan Kadis Kebudayaan Sumbarm Jefrinal Arifin dan Pengunjung

Catatan : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Di aula Museum Adityawarman, Sumatera Barat, Jalan Diponegoro Nomor 10 Padang, Selasa 30 September 2025 kemarin digelar serangkaian kegiatan berupa ; Pameran Temporer Keramik, Lomba mewarnai koleksi keramik dan belajar bersama, “Mitigasi Bencana” mengenang gempa bumi bermagnitudo 7,6, yang terjadi 16 tahun silam dan dihadiri sejumlah perguruan tinggi, OPD Provinsi dan Kota Padang, Budayawan, seniman, kurator, mahasiswa, guru dan peserta didik.

Baca Juga : Panitia Pelaksana Mubes Alumni SSRI-SMSR-SMKN 4 Padang Se-Indonesia Terbentuk

Peristiwa gempa yang memilukan itu, bukan hanya meninggalkan luka mendalam masyarakat tetapi juga mengakibatkan ribuan nyawa melayang, meluluhlantakan 135 ribu rumah dan banyak lagi dengan kerugian mencapai Rp. 22 trilyun lebih.

Pecahan Keramik Akibat Gempa 2009 di salah satu etalase Museum Adityawaran Sumbar Jalan Diponegoro No. 10, Padang
Pecahan Keramik Akibat Gempa 2009 di salah satu etalase Museum Adityawaran Sumbar Jalan Diponegoro No. 10, Padang

Diantara kerugian ini, terdapat kerusakan fisik yang luar biasa berupa benda benda cagar budaya dan atau benda-benda peninggalan sejarah berupa “keramik kuno” koleksi Museum Adityawarman.

Keramik–keramik tersebut ada yang berasal dari Tiongkok, Jepang, Eropa, Persia dan Vietnam sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Dr. Jefrinal Arifin, SH, M.Si saat membuka Pameran Keramik koleksi Museum Adityawarman dalam rangkaian peringatan 16 tahun gempa Sumbar, di aula museum, Selasa 30 September 2025 kemarin.

Rekontruksi Pecahan Keramik Kuno akibat gempa Sumbar 2009
Rekontruksi Pecahan Keramik Kuno akibat gempa Sumbar 2009

Menurut Jefrinal Arifin, dari aspek historis, koleksi keramik merupakan saksi perjalanan peradaban manusia yang ternyata melalui peristiwa gempa dengan sekejap hancur berantakan, bahkan terancam musnah. Namun dibalik kehancuran lahir semangat penyelamatan.

UNESCO, Pemerintah Pusat dahn daerah hingga lembaga intrenasinal bersama sama melakukan penyelamatan darurat sejak 2009 yang membuat kita berdiri menyaksikan kembali koleksi yang selamat bahkan sejumlah pecahannya. Mengingat salah satu peran Museum sebagai sarana Melestarikan Budaya atau lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda-benda kuno, menjadi penjaga warisan budaya yang penuh dengan nilai nilai.

Tumpukan Pecahan Keramik Kuno di Museum Adityawarman Akibat Gempa 2009
Tumpukan Pecahan Keramik Kuno di Museum Adityawarman Akibat Gempa 2009

Dalam catatan kita di Museum Adityawarman terdapat ratusan keramik bernilai estetika tinggi, syarat sejarah dan nilai nilai sebagai gambaran ratusan tahun silam seperti keramik Tiongkok, Jepang, Eropa, Persia dan Vietnam tersebut, dimaksudkan agar dapat menjaga integritas fisik, estetika, dan sejarah suatu artefak, konservasi bertujuan melindungi koleksi dari kerusakan akibat faktor usia, lingkungan, dan tangan manusia. Kemudian museum merupakan salah satu jendela yang mampu membuka cakrawala pengetahuan peradaban manusia tentang masa lampau, sekaligus menjadi inspirasi untuk masa depan.

Melalui koleksi artefak, dokumen, dan berbagai media lainnya, museum memvisualisasikan jejak peradaban manusia di muka bumi ini. Artinya museum tidak hanya menyimpan, tetapi juga meneliti, mendokumentasikan, dan menyebarkan pengetahuan tentang budaya Indonesia kepada generasi penerus. Dengan demikian, museum menjadi wadah penting untuk menjaga kelestarian budaya dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Lihat keramik Tiongkok sebagaimana dipaparkan peneliti dan kurator pameran Aurora Murnayati Arby dikenal sebagai tempat lahirnya keramik porselin, mulai diproduksi dinasti Han (206 SM–220 M). Porselen Tiongkok terkenal karena kualitas dan teknik pembuatannya yang rumit seperti ; keramik Dinasti Ming dengan desainnya yang indah dan kompleks.

Kemudian keramik dari Eropa mengingat perkembangan seni keramik Eropa terjadi secara signifikan selama Renaisans. Italia dan Belanda dikenal dengan keramik faience yang memiliki tampilan menarik dan telah menjadi barang koleksi.

Mengambil contoh sebagai ilustrasi keramik di berbagai Kebudayaan Mesir Kuno tidak hanya digunakan untuk wadah tetapi juga sebagai dekorasi tombak dan barang-barang ritual. Teknik glazing diproduksi dengan sentuhan keindahan pada keramik.

Mengadopsi semua ini, sebanyak 320 koleksi keramik pecah akibat gempa di museum Adityawarman tahun 2009 silam sejatinya merupakan koleksi sangat berharga, mencakup keramik asing dari berbagai negara seperti Tiongkok : Dinasti Han (abad ke-2 SM – abad ke-2 M), Tang (abad ke-7–10), Yuan (1271–1368), Ming (1368–1644), hingga Qing (abad ke-10–13); Jepang : Imari dan Kutani dari abad ke-17–19. Keramik Eropa abad ke-19, termasuk Staffordshire (Inggris) dan keramik Belanda. Leramik Vietnam sebagai Dinasti Tran dan Le, masuk ke Nusantara melalui pelabuhan penting seperti Malaka dan Palembang; Persia: Pecahan kaca dan keramik dari era Islam awal, dibawa pedagang Arab, Persia, dan Gujarat.

Kerusakan itu koleksi diikustrasikan sebagai saksi, sehingga Pameran Temporer ini diinisiasikan atas 16 tahun peringatan peristiwa gempa 2009 ini melalui restorasi koleksi sebagai saksi bisu atas peringatan peristiwa gempa. Pameran ini, menyampaikan pesan bahwa warisan budaya pun dapat rapuh karena diterpa bencana. Tetapi semangat pemulihan, kolaborasi lintas komunitas, dan mitigasi bencana tetap ada.

Museum Adityawarman Menyimpan 6.217 Koleksi

Menurut Aurora Murnayati Arby, Museum Adityawarman menyimpan sekitar 6.217 objek koleksi yang terdiri dari berbagai material dan latar belakang keilmuan juga mengalami kerusakan, termasuk ruang tata pamer museum dan rak penyimpanan koleksi di ruang simpan koleksi. Dampak kerusakan yang paling dominan di Museum Adityawarman adalah hancurnya koleksi-koleksi unggulan keramik sejumlah 320 objek.

Koleksi keramik yang rusak akibat gempa 2009 sangat penting secara historis dan kultural. Di antara koleksi tersebut, adalah koleksi keramik asing yang berasal dari berbagai dinasti di Tiongkok abad ke 14-16, Jepang dan porselen Eropa abad ke-18 dan 19. Koleksi-koleksi ini menempati posisi strategis sebagai warisan budaya yang mencerminkan hubungan dagang dan pertukaran budaya lintas samudera pada masa lampau.

Nilai penting dari koleksi ini terletak tidak hanya pada keindahan artistiknya, tetapi juga pada nilai historis, sosial, edukatif dan ilmiah yang tinggi sebagai bahan studi sejarah, arkeologi, dan antropologi budaya.

Program penyelamatan warisan budaya pasca-bencana, Emergency Support for the Safeguarding of Cultural Resources in the earthquake affected areas in West Sumatera, Indonesia (“Bantuan Darurat untuk Menyelamatkan dan melindungi Kekayaan Budaya di wilayah-wilayah terdampak gempa di Sumatera Barat, Indonesia”) merupakan bagian dari upaya mitigasi dampak gempa terhadap aset-aset budaya, terutama yang memiliki nilai sejarah dan identitas lokal yang kuat.

Selain itu Museum Adityawarman dalam daftar prioritas intervensi karena tingkat kerusakannya yang tinggi serta pentingnya koleksi yang dimilikinya dengan program penyelamatan mencakup asesmen awal terhadap kondisi bangunan dan koleksi, pengamanan darurat terhadap fragmen-fragmen koleksi yang rusak, serta pengembangan rencana konservasi jangka panjang.

Semua itu terangkum dalam kegiatan yang dilaksanakan selama tiga bulan dengan mendatangkan para pakar dari dalam dan luar negeri (Oktober-Desember 2009); Survei Oktober 2009, November–Desember Aktivitas Penyelamatan Koleksi melalui kerjasama sinergis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI; Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Sumatera Barat, Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat, UNESCO, NRICP Tokyo dan British Museum.

Karena itu sebagaimana disampaikan Kepala UPTD Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah saat pembukaan kemarin menyebutkan bahwa Pameran Temporer ini dalam konteks sejarahnya memang bermuhasabah terhadap persitiwa gempa 16 tahun silam, termasuk Museum Adityawarman dan seisinya hingga 320 koleksi (keramik) mengalami kerusakan.

Namun demikian, kegiatan pameran keramik termporer ini menjadi tanda atua penanda bahwa ada upaya kita untuk melakukan penyelamatan. Dan itu semua telah kita lakukan bersama berbagai pihak dari kementerian terkait, UNESCO, dan pihak lain.

Konsep pameran yang disajikan ini berada dalam tujuh zona menampilkan perjalanan keramik lintas benua, perannya dalam adat Minangkabau, kehancuran akibat gempa, hingga proses pemulihan dan restorasi. Sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya tetap hidup meski diterpa bencana. Ini menekankan pentingnya ketahanan, kolaborasi lintas komunitas, dam mitigasi bencana untuk menjaga warisan bersama,” jelasnya.

Pameran Temporer Museum Adityawarman 2025: “Retakan yang Bertutur – Menjaga Warisan Masa Lalu” ini tak hanya sekadar pameran, tapi menjadi upaya bersama agar ke depannya inisiatif dan kesadaran kolektif terus tumbuh untuk menjaga warisan budaya dari keterancaman lain.

Hal yang terpenting lagi pameran ini tentu saja dimaksudkan agar Musueum Adityawarman, perlu mendapat perhatian dan pertimbangan yang matang dari semua pihak terlebih bagi petinggi di daerah ini. Jangan di sia siakan rekomendasi UNESCO 16 tahun untuk museum Adityawarman diinapkan bahkan cendrung dikesampingkan saja.

Jika perhatian kita redup terhadap pentingnya keadiran museum Adityawarman – karena alasan klasik banyak aktivitas lain yang menyelimutinya – padahal sebagai wadah penjagaan warisan budaya, museum bukan hanya tempat menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga merupakan gambaran perjalanan menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita.

Namun sesungguhnya melalui pameran keramik temporer pecahan gempa 2009 yang kini dilakukan di Museum Adityawarman dengan kekayaan nilai nilai budaya ini di dalamnya layak diapresiasi dan dukungan semua pihak , terlebih bagi petinggi daerah. Karena jika tidak, endingnya tidak akan ada lagi warisan budaya yang bersifat benda memiliki nilai sejarah dan identitas lokal yang kuat.

Sebagai wadah penjagaan warisan budaya, museum bukan hanya tempat menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga merupakan gambaran perjalanan menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita.

Tetapi kerangka berfikir dan paradigma kita terhadap museum selama ini tetap saja berbeda dan bersilang jauh. Ia teramat kongkrit sekaligus abstrak dalam perabadan manusia. (***)

Catatan Redaksi
Muharyadi, Pengamat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.