Jakarta, Semangatnews.com – Panglima Korps Pasukan Khas (Pangkorpasgat) telah memberikan klarifikasi tegas bahwa Marsdya Deny Muis akan memimpin defile para jenderal dalam perayaan HUT ke-80 TNI — bukan para jenderal aktif yang secara langsung tampil bersama pasukan baris.
Penegasan ini muncul setelah publik mempertanyakan keikutsertaan para jenderal di barisan defile, di mana sebagian mengira mereka turut berjalan sejajar prajurit; panggung utama kemudian menyebut bahwa jenderal aktif tidak berjalan, melainkan berada di posisi kehormatan di tribun.
Beberapa media menyebut bahwa kehadiran jenderal dalam defile melanggar tradisi militer, namun pihak Pangkorpasgat menjawab bahwa skema defile telah dirancang agar tidak melanggar protokol institusi — yakni jenderal memimpin dari satu titik dan bukan berada di barisan berpacu langsung.
Menurut Tempo, keikutsertaan jenderal dalam defile telah menjadi sorotan sejak awal karena biasanya defile militer dibatasi untuk prajurit aktif agar simbol kesatuan dan kedisiplinan tetap terjaga.
Kumparan juga mencatat bahwa Letjen Tri sebagai Sekjen Kemhan ikut tampil dalam defile jenderal, sehingga publik makin penasaran apakah langkah ini bagian dari inovasi protokol atau hanya konsep visual baru dalam perayaan militer.
Pangkorpasgat menyebut bahwa jenderal yang berjalan dalam defile hanyalah figur simbolik yang khusus dipilih untuk memperkuat visual militer, dan ratakan eksposur institusi TNI kepada publik dalam momentum kebangsaan.
Marsdya Deny Muis disebut sebagai figur netral dan figur kehormatan yang akrab dengan protokol upacara; posisinya sebagai pemimpin defile ini dipandang sebagai jembatan simbolik antara jajaran militer aktif dan struktur komando.
Para jenderal aktif disebut hanya berdiri di posisi lendir kehormatan di barisan tribun, memberikan hormat kepada pasukan defile dan tidak berada di tengah barisan gerak — sesuai klarifikasi Pangkorpasgat terhadap kabar viral di media sosial.
Bagi sebagian pengamat militer, inovasi ini bisa menjadi redefinisi protokol defile militer modern — agar tidak sekadar rutinitas berjalan baris, tetapi juga menampilkan figur kepemimpinan militer secara simbolis di hadapan publik.
Namun tetap ada pesan agar institusi berhati-hati: inovasi visual tidak boleh mengikis makna prosedural dan nilai disiplin yang selama ini menjadi ruh defile militer — terutama dalam konteks tradisi militer Indonesia.
Dengan klarifikasi resmi dari Pangkorpasgat bahwa Marsdya Deny Muis pimpin defile dan jenderal aktif tidak ikut berjalan, kontroversi diharapkan mereda dan publik bisa melihat perayaan HUT TNI sebagai ajang kehormatan, bukan kontroversi institusional.(*)
