Patroli Hunting dan ETLE Jadi Senjata Utama Polisi di Operasi Zebra, Razia Pintu-Tetap Ditinggalkan

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Operasi Zebra 2025 membuka lembar baru bagi strategi penegakan lalu lintas Polri dengan menggeser pola tukar strategi: dari razia stasioner ke patroli “hunting”, sambil memanfaatkan teknologi ETLE secara besar-besaran. Langkah ini dianggap refleksi modernisasi penegakan hukum lalu lintas yang ingin lebih efektif dan manusiawi.

Komisaris Besar Komarudin dari Dirlantas Polda Metro Jaya menjelaskan bahwa petugas tidak akan memasang pos razia tetap di titik-titik tertentu. Sebagai gantinya, mereka akan melakukan patroli keliling selama 24 jam di berbagai ruas jalan di ibukota untuk menangkap pelanggar sambil bergerak.

Penindakan tilang manual disiapkan hanya untuk kasus-kasus yang kamera ETLE tidak bisa jangkau. Komisaris Komarudin menjelaskan bahwa penekanan awal adalah pada edukasi dan teguran simpatik, baru setelah itu penegakan hukum dengan tilang diberlakukan jika memang diperlukan.

Adopsi ETLE sangat dominan kali ini. Di sejumlah wilayah, petugas menargetkan bahwa sebagian besar penilangan akan dilakukan secara elektronik. Hal ini bukan tanpa alasan, karena sistem tilang digital cukup menjanjikan dalam hal efisiensi dan transparansi.

Kamera ETLE yang digunakan dalam operasi ini bisa berupa kamera statis di pos pengawas atau kamera mobile yang dipasang di kendaraan patroli. Dengan begitu, pelanggaran bisa terekam otomatis tanpa petugas harus mendekat ke pengendara.

Patroli berburu (hunting) memungkinkan petugas untuk lebih fleksibel menjangkau titik pelanggaran. Karena tidak menetap, polisi jadi bisa menyisir area rawan pelanggaran berulang dan mendeteksi pengendara yang biasanya “luput” dari razia statis tradisional.

Strategi ini juga dianggap lebih ramah publik. Dengan tidak mengandalkan warung razia tetap di tepi jalan, interaksi polisi-pengendara bisa dikurangi, dan kesan operasi menjadi lebih ke arah menjaga keselamatan daripada mencari tilang.

Polisi menyadari bahwa tidak semua pelanggaran bisa dideteksi oleh ETLE — terutama jenis pelanggaran tertentu yang terjadi secara kasat mata atau tidak terjangkau kamera. Oleh karena itu, tilang manual tetap disiapkan sebagai alat penegakan hukum cadangan.

Para pengamat lalu lintas menyebut kombinasi ETLE dan patroli hunting sebagai pendekatan masa depan penegakan lalu lintas. Mereka menilai Polri mulai berpikir jangka panjang dalam menciptakan budaya tertib lalu lintas, bukan hanya operasi sesaat.

Bagi pengendara, pendekatan baru ini mengingatkan bahwa disiplin lalu lintas kini lebih dipantau secara menyeluruh. Tilang bisa datang kapan saja, di mana saja — bukan lagi hanya di razia besar di titik-titik tertentu.

Sementara bagi Polri, Operasi Zebra dengan strategi hunting + ETLE ini menjadi semacam laboratorium kebijakan penegakan yang bisa menjadi model untuk operasi-operasi lalu lintas masa depan. Keberhasilan strategi ini akan menjadi tolok ukur seberapa efektif teknologi dan mobilitas petugas bisa mendisiplinkan pengendara.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.