Jakarta, Semangatnews.com – Dalam suasana internal yang memanas di lingkungan PBNU, Waketum Amin Said Husni menyerukan agar seluruh pengurus menahan diri dan tidak memperkeruh polemik yang tengah terjadi. Ia mengingatkan bahwa konflik internal sama sekali tidak selaras dengan cita‑cita besar organisasi untuk melayani umat.
Amin menyampaikan bahwa hanya forum tertinggi, yaitu Muktamar, yang berwenang memberikan mandat atau mencabutnya terhadap struktur kepengurusan. Oleh sebab itu, segala upaya pemakzulan atau sidang selain Muktamar tidak memiliki legitimasi hukum dan organisasi.
Ia menekankan bahwa perpecahan di internal PBNU hanya akan merugikan seluruh elemen — merusak kepercayaan anggota, membingungkan kader di daerah, dan melemahkan kapabilitas organisasi untuk menjalankan amanahnya di masyarakat.
Dengan waktu sisa masa kepengurusan hingga Januari 2027, Amin mengusulkan agar energi dialihkan untuk menyelesaikan program strategis. Ia menilai konflik internal saat ini adalah gangguan yang bisa menghambat proses kerja dan pelayanan PBNU.
Menurutnya, solusi terbaik atas krisis yang terjadi bukanlah perseteruan atau pemaksaan kehendak, tetapi melalui islah — rekonsiliasi dan musyawarah — seperti nasihat para kyai. Konflik yang dipelihara hanya akan membawa malapetaka bagi siapa saja yang mengobarkannya.
Sebagai bentuk nyata ajakan islah, Amin meminta seluruh tingkat pengurus — dari pusat hingga ranting — untuk menahan diri, tidak terprovokasi, dan menjaga kehormatan organisasi. Ia percaya bahwa dialog internal dan komitmen bersama dapat membawa suasana kembali kondusif.
Respons di kalangan anggota NU dan pengurus wilayah pun terpantau mulai mengalir. Beberapa pihak menyambut baik ajakan untuk meredam konflik dan lebih mengutamakan penyelesaian secara elegan melalui jalur resmi.
Meski tantangan dan tensi politik internal tetap ada, Waketum PBNU mengingatkan bahwa NU bukan arena pertarungan kekuasaan politik sesaat — melainkan organisasi keagamaan dan sosial yang memiliki tanggung jawab besar bagi umat. Konflik internal harus disikapi dewasa dan bertanggung jawab.
Amin menutup dengan seruan agar seluruh pengurus menggunakan sisa masa jabatan dengan sebaik‑baiknya: fokus pada pengabdian, pembangunan program, dan menjaga integritas organisasi. Ia berharap kebersamaan bisa pulih, dan marwah NU tetap terjaga.
Situasi hari ini menjadi momen penting bagi NU: antara memperdalam konflik atau memilih islah sebagai jalan terakhir demi keutuhan, stabilitas, dan masa depan organisasi. Keputusan kini ada di tangan seluruh anggota — apakah akan bersatu atau terus terseret ketegangan.
Seruan Waketum PBNU ini diharapkan menjadi momentum untuk menata kembali internal organisasi agar fokus pada pelayanan umat, dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, serta menutup celah konflik yang bisa mengganggu misi besar NU.(*)
