Pelukis Guemen Heriadi, Bertutur Tentang Intuisi dan Nurani dalam Bahasa Visual Rupa di Kanvasnya

oleh -

Semangatnews.com. Beragam kecendrungan yang melatar belakangi lahirnya karya seni seperti seni lukis di jagad bumi raya ini, merupakan sesuatu yang dianggap lumrah dan wajar dalam dunia seni lukis.

Terlebih dalam pergerakan estetis sebagai sebuah pertanggungjawaban kultural seniman kepada publiknya.

Namun demikian, karya yang mampu merayakan mata penikmat bahkan mampu menghipnotis mata banyak orang, tentu tidak terlepas dari persoalan adanya keunikan tema, bentuk dan makna yang dimunculkan sesuai kecendrungan lahirnya karya lukis itu merupakan genre individu atau kelompok-kelompok tertentu dalam cipta karya mengikuti keragaman perkembangan seni lukis sesuai ruang dan waktu dari dunia seni lukis itu sendiri.

Demikian pula dengan apa yang dijelajahi dan digeluti dalam ranah kreativitas oleh pelukis urang awak Gusmen Heriadi (46 th) yang sejak tahun 1995 lampau eksis berkarya, berpameran, berkarya dan berpameran lagi dalam berbagai iven penting di tanah air dan sejumlah negara.

Gusmen Heriadi alumni jurusan seni lukis SMSR Negeri Padang dan ISI Yogyakarta yang kini bermukim di Yogyakarta itu, merupakan satu diantara sedikit seniman urang awak yang karya-karyanya senantiasa mengikuti perkembangan dan perubahan zaman.

Karena membicarakan dunia seni lukis yang digeluti Gusmen dan banyak perupa urang awak pendahulunya, seangkatan maupun di bawahnya di daerah istimewa Yogyakarta sejak puluhan tahun silam tak ada batasan tersendiri dan juga tak akan habis-habisnya untuk dibahas dan didiskusikan setiap ruang dan waktu.

Dihubungi Semangatnews.com, Jumat (17/01) Gusmen Heriadi, menyebutkan, karya seni serupa seni lukis merupakan wujud ekspresi dalam menumpahkan imajinasi yang bisa jadi berisikan berbagai paparan cerita misalnya tentang cinta, keindahan, pengalaman hidup, curahan hati atau perasaan dengan mengagumi sesuatu si alam sekitar baik langsung mapun tidak.

Dari apa yang pernah kita lahirkan itu terselip persoalan keindahan, keunikan yang menimbulkan rasa senang, sedih, bahagia bahkan adakalanya haru yang melingkari penciptanya, ujar Gusmen Heriadi menuturkan.

Tetapi tentulah, melukis atau mencipta karya dalam seni murni tentulah bukan sekedar menuangkan ide/imajinasi kepermukaan menjadi karya tanpa menyentuh subtansi konsep dan makna karya secara utuh. Konsep dapat ditelisik dari persoalan kakikat seni rupa, serta aspek-aspek lain di dalamnya. Makna simbol merupakan representasi pencipta, misalnya apa yang ditawarkan kepada penikmat atau publik hingga pemahaman karya benar-benar komunikatif antara karya seni dan penikmat.

Sejumlah karya-karya lukis yang pernah dihasilkan Gusmen Heriadi selama ini dalam pengamatan Semangatnews.com baik yang bersumber dari fantasi, imajinasi maupun di luar itu berasal dari dunia bathin berisikan tentang intuisi dan nurani dalam estetik visual rupa.

Kita amati 3 dari ratusan karya lukis yang pernah lahir dari wilayah kreativitas bermuatan intuisi dan nurani itudiantaranya berjudul ; “Bilangan Kosong”, 200 cm x 220 cm, Mixed media, 2018, “Bilangan Kosong”, 200 cm x 220 cm, Mixed media, 2018 dan “Celah” — Semesta Intuisi Series — 35 cm x 45 cm, Mixed media 2019 merupakan karya yang berangkat persoalan hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial berbudaya. Gusmen Heriadi, ada di dalamnya.

Sementara pendidik dan pengamat seni rupa/kurator Muharyadi yang ditemui di tempat terpisah perihal karya-karya Gusmen Heriadi yang telah puluhan kali berpameran kolektif dan enam kali berpameran tunggal itu, menyebutkan, pelukis seperti Gusmen dapat wsaja melihat, mengamati, mempelajari, mengalami, memahami, menghayati, berfkir, bersikap, berperilaku terhadap alam dan lingkungan sosio-kultural mereka sendiri maupun di luar dirinya.

Artinya, melalui lukisan yang dijelajahi Gusmen Heriadi dapat diketengahkan sejumlah nilai-nilai yang melingkupi hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, dimana pelaku seni berada di dalamnya. Namun demikian, lukisan dapat diketengahkan sejumlah nilai-nilai yang melingkupi hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, dimana pelaku seni berada di dalamnya, ujar Muharyadi memberi penjelasan. (SS/YSM/FR).