Pelukis Melodia, Merefresentasikan Kritik Sosial di Kanvas Berbahan Cat Minyak yang Kini Mulai Terbatas Digunakan

by -
Pelukis Melodia, Merefresentasikan Kritik Sosial di Kanvas Berbahan Cat Minyak yang Kini Mulai Terbatas Digunakan
Pelukis Melodia, Merefresentasikan Kritik Sosial di Kanvas Berbahan Cat Minyak yang Kini Mulai Terbatas Digunakan

Catatan Kecil : Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM – Banyak seniman melahirkan karya-karyanya kepermukaan bermuatan kritik sehat dan membangun semisal mulai dari masalah kesenjangan sosial seperti kemiskinan, ekonomi, politik, budaya atau masalah keseharian mampu menjadi pemandangan menarik melalui karya seni untuk disimak dan ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam.

Semua masalah yang ada dikemukakan melalui karya berbungkus kritik tersebut, tentu tidak terlepas dari hasil pengamatan serta interaksi seniman dengan lingkungan atau alam sekitarnya, berangkat dari pengalaman masing-masing individual untuk merefresentasikannya kepermukaan.

Menyingging kemiskinan tentu tidak terlepas dari keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti sandang, papan, dan pangan. Kemudian kemiskinan ini bisa di sebabkan oleh sulitnya akses terhadap pendidikan dan juga pekerjaan.

Lukisan Melodia, Perjalanan ke Tanah Harapan, 175 x 175 cm, cat minyak, 2022
Lukisan Melodia, Perjalanan ke Tanah Harapan, 175 x 175 cm, cat minyak, 2022

Masalah kemiskinan memang sudah ada sejak dahulu bahkan hingga kini. Sebagian orang memahami istilah kemiskinan secara obyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan efaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern.

Lukisan Melodia, Berkibarlah Benderaku, 65 x 90 cm, cat minyak, 2022
Lukisan Melodia, Berkibarlah Benderaku, 65 x 90 cm, cat minyak, 2022

Pemerintah Indonesia yang berorientasi mengembangkan Indonesia menjadi Negara maju dan mapan dari segi ekonomi tentu menganggap kemiskinan adalah masalah mutlak yang harus segera di selesaikan di samping masalah lain yaitu ketimpangan pendapatan, strukturisasi pemerintahan, inflasi, defisit anggaran dan lain-lain.

Pelukis”urang awak” asal Sumani, Solok, Sumatera Barat. Melodia (56 th) yang kini bermukim di Mejing Lor RT 04 RW 01 Ambarketawang Gamping Sleman Yogyakarta misalnya mungkin satu diantara puluhan bahkan rarusan pelukis hingga saat ini tetap setia melakukan kritik sosial melalui karya-karya lukisnya dalam bahasa visual dengan seperangkat masalah yang diusung kepermukaan sebagai bahasa utama karya

Karya-karya yang lahir kepermukaan hasil penjelajahan kreativitasnya didasari bahwa, pengamatan terhadap realitas dianggap penting karena berkaitan dengan ide, keinginan dan lainnya. Karena itu kepekaan terhadap realitas menjadi teramat penting lahirnya karya demi karya kepermukaan.

Lukisan Melodia, Indonesia Indah #1, 75 x 100 Cm, cat minyak, 2017
Lukisan Melodia, Indonesia Indah #1, 75 x 100 Cm, cat minyak, 2017

Sebagaimana banyak teori menyebutkan bahwa, seniman melakukan kritik melalui karya seni seperti gaya hidup orang-orang di sekitarnya mulai dari persoalan kemiskinan, ekonomi, politik, budaya atau masalah keseharian lainnya.

Salah satu lukisan Melodia berjudul “Perjalanan Ke Tanah Harapan”, 175 x 175 cm, cat minyak, 2022 yang ditampilkan dalam suatu pameran kelompok Pesona Alkimia di Langgeng Art Foundation, Jalan Suryodiningratan 37 Yogyakarta, belum lama ini bertutur tentang urbanisasi yang merupakan sebuah keniscayaan selama tidak terjadi pemerataan dalam pembangunan.

Bagi masyarakat desa kota senantiasa menarik untuk ditaklukkan. Teknologi informasi yang sangat mudah didapat dalam waktu cepat, menggoda siapapun untuk mendatanginya. Maka tidaklah mengherankan jika orang dari desa berlomba-lomba ke kota besar untuk mewujudkan obsesinya. Merekalah yang menghidupkan denyut kota, yang berhasil dan gagal hampir sama banyaknya. Meski sering menjadi fatamorgana, dalam imajinasinya kota adalah tanah harapan yang dapat mengubah hidup.

Tiga karyanya yang yang pernah saya amati sebelumnya berjudul “Berkibarlah Benderaku”, 65 x 90 cm, cat minyak, 2022, pameran kedua Polisi Mbudaya “Wiwitan Pasa” Indonesia Indah #2, 75 x 100 cm, cat minyak, 2018 dan pameran ketiga di Museum Sonobudoyo Yogyakarta 18 Maret sd 18 April 2023 menampilkan karya Indonesia Indah #1 75 x 100 cm, cat minyak, 2018 tetap berpijak pada obyek-obyek kesenjangan sosial di tengah-tengah pesatnya laju pembangunan di negeri ini. Rohnya ada disitu yang tetap membelenggu pikirannya untuk diangkat kepermukaan.

Semuanya tentu bermuara pada persoalan perkembangan dan perubahan pada suatu kota tempat berkumpul dan bermukimnya banyak manusia dengan segala strata sosialnya. Tetapi dari banyak penghuni kota tersebut tak sedikit pula orang menjadi asing di negerinya sendiri. Misalnya ada pembangunan disana sini tidak dirasakan sebagai tempat perbaikan nasib, bahkan pembangunan yang dilakukan tersebut membuat merka menjadi tersisih.

Narasi ketiga karya yang menampilkan bagian menarik Daerah Istimewa Yogyakarta yang dijuluki kota budaya memiliki daya tarik tersendiri sebagai kota wisata. Bukan saja di era digital dengan media sosial seperti sekarang, ternyata Yogya memiliki kelengkapan sebagai kota yang menarik untuk di kunjungi. Yang menggelitik di ketiga karya keindahannya bukan semata disebabkan karena peninggalan budayanya saja, tetapi juga masyarakarat dan kehidupan kesehariannya yang masih menyisakan banyak persoalan, satu diantaranya soal kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Artinya di tengah gencarnya pembangunan di tanah air dalam keindahan pemandangan sehari-hari yang kita saksikan ada kegetiran, pahit manisnya hidup di tengah-tengah maraknya pembangunan walau telah puluhan tahun negarai ini merdeka, ternyata kesehjahteraan rakyat belum merata. Lihat ketiga karya yang dibuat detail dan rinci menyuara kesenjangan sosial yang kian menganga lebar. Itulah menariknya karya-karya Melodia selama ini.

Sebagai perumpamaan seperti Yogyakarta, yang banyak menyimpan kegelisahan dari kota tradisional dalam menghadapi perubahan menuju pembentukan sebuah masyarakat moderen. Karena itu dalam kehidupan, justru perubahan merupakan suatu keniscayaan suatu kota dengan masyarakatnya yang sangat menarik perhatian Melodia untuk memvisualkannya untuk dieksplorasi menjadi lukisan dengan seperangkat nilai-nilai.

Menurut Melodia, pada sejumlah peristiwa mereka hanya menjadi penonton perubahan kota yang sangat cepat, bahkan cepat sekali ditunjang kemajuan teknologi dan informasi yang membuat gagap. Kemudian gempuran media melalui iklan mempengaruhi pola pikir dan hidup serba konsumtif dengan gaya hedonisme hingga membuat mereka tercerabut dari akar budayanya.

Hal yang menarik mengamati jauh diantara banyak karya-karya Melodia, pelukis ini lebih melihat dinamika perubahan masyarakat dengan situasi dan kondisi kotanya yang merupakan rekaman peristiwa atau setidaknya dapat dikatakan potret perubahan zaman yang terus terjadi setiap ruang dan waktu sebagai sebuah realitas dihadapan kita semua.

Menurut Melodia, karya-karyanya senantiasa konsisten pada perkembangan dan perubahan suatu kota tempat berkumpul dan bermukimnya banyak manusia dengan segala strata sosialnya. Tetapi dari banyak penghuni kota tersebut tak sedikit pula orang menjadi asing di negerinya sendiri. Misalnya ada pembangunan disana sini tidak dirasakan sebagai tempat perbaikan nasib, bahkan pembangunan yang dilakukan tersebut membuat mereka manjadi tersisih.

Karya-karya Melodia yang banyak mengangkat obyek seperti : “Sepeda, becak, di kota-kota besar. Betapa kaya dan lirisnya narasi tentang sepeda, becak, yang secara sosial maupun kenangan yang menghuni otak kita. Obyek-obyek lukisan Melodia begitu liris untuk dibayangkan secara visual maupun lagu.

Soal bahan yang dipakai dalam melukis guna merefresentasikan suatu obyek kepermukaan selama ini mungkin tak banyak diperdebatkan. Karena dari banyak bahan yang digunakan semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya sesuai sifat dan karakter masing-masing yang digunakan.

Pada pameran Melodia terakhir mengusung tema Pesona Alkimia sebagaimana dalam pengantar katalogus oleh kurator Wahyuddin merupakan pameran seni lukis cat minyak. Dan seni lukis cat minyak—sebagai gagrak, teknik, dan matra—merupakan penemuan mengagumkan dan pencapaian besar seni lukis. Matra ini meninggikan warna. Yang dituntut dari pelukis hanyalah perhatian, cinta, dan kesetiaan, karena cat minyak bersifat lebih halus, lebih lembut, lebih peka, dan lebih “mudah” diselaraskan dan dinuansakan. Tapi matra ini pun menuntut kesaksamaan dan kehati-hatian—terutama untuk mencapai kedalaman dan rasa visual. Tak kurang dari itu, ia memperingatkan marabahaya di balik warna-warnanya dan racun dari aromanya.

Barangkali itu sebabnya, pada perkembangannya, ketika penghayat seni rupa (di) Indonesia hari-hari ini kecanduan fatal kecepatan dan kepraktisan dalam penciptaan, penikmatan, dan perdagangan karya seni rupa kontemporer, seni lukis cat minyak tersingkir ke tepian duniasepi lagi sunyi. Namun Melodia tetap setia menggunakan cat minyak untuk merefresentasikan ide-ide karya lukisnya kepermukaan tanpa kehilangan nilai artistik dan estetik di setiap karya-karyanya (*)

Catatan Redaksi

Muharyadi, Seniman dan Jurnalis tinggal di Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.