SEMANGATNEWS.COM, PADANG – Menjadi seniman seperti pelukis dalam perjalanannya tentulah tidak hanya cukup, berkarya, berpameran dan berkarya lagi tanpa banyak melihat, mengamati bahkan mengapresiasi karya-karya orang lain di luar diri kita sendiri. Apalagi karya-karya yang dilihat dan diamati merupakan karya-karya terbaik dalam catatan sejarah seni rupa di tanah air.
Karena melihat, mengamati dan mengapresiasi karya seniman lain di luar diri kita sendiri, akan menambah wawasan dan pengetahuan kita guna melihat pergulatan dan sejarah panjang seniman dengan karya-karyanya sekaligus sebagai kaca pembanding dan literatir antara diri kita dan seniman yang kita kenal dan sangat berpengaruh di Indonesia selama ini.

Hal itu pulalah yang dilakukan sang maestro yang juga pelukis paling senior saat ini di Sumbar bahkan di tanah air, Amir Syarif (84 th) usai berkeliling selama 2,5 bulan lebih ke sejumlah mesjid-mesjid rumah Allah SWT di Jakrta, museum, galeri dan tempat-tempat penting seniman Indonesia selain juga bertemu anak dan cucu di Jakarta saat berjumpa dengan semangatnews.com di Padang, Jumat siang, 17/02/23.
Menurut Amir Syarif pelukis kaligrafi satu angkatan dengan seniman Amri Yahya (alm) semasa menjalani pendidikan di ASRI Yogyakarta dulu, selama 2,5 bulan meninggalkan kediamannya Jalan Tekonologi VI A, No. 53, Nanggalo, Siteba Padang, ia selain bertemu anak, menantu dan para cucu, juga berziarah ke pemakaman adik dan lainnya bersama isteri juga banyak meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat penting seni rupa di sejumlah tempat di pulau Jawa.

Tempat-tempat yang dikunjungi tersebuat diantaranya Galeri Nasional Indonesia (GNI) di Jakarta Pusat, Museum Basoeki Abdullah, museum Rajawali, museum macan, museum nasional Indonesia (gedung gajah) semua di jakarta, Garuda Wisnu Kencana Bali dan sejumlah tempat lainnya yang yang banyak menampilkan karya-karya terbaik seniman di tanah air.
Meski belum semua museum atau galeri penting lainnya bisa saya kunjungi, tapi paling tidak telah mengantarkan pemahaman saya kepada pintu gerbang ; “betapa pentingnya seni rupa di tengah tengah kemajemukan masyarakatnya sebagai bentuk karya yang lahir dari penjelajahan kreativitas para seniman dan kaya nilai-nilai di dalamnya,” ujar Amir Syarif menceritakan pengalamannya.

Di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta, ujar Amir Syarif, banyak ruangan tempat pemajangan karya-karya terbaik saya amati yang memang sangat luar biasa sekaligus menjadi marwahnya seni rupa di tanah air. Begitu juga saat saya mengunjungi museum Basoeki Abdullah salah seorang tokoh penting seni rupa di tanah air di Jl. Keuangan Raya No.19, RW.5, Cilandak Barat Jakarta Selatan, karya-karyanya bukan hanya bernilai estetika dan artistik tinggi, tetapi juga menjadi gambaran akan ketokohan Basoeki Abdullah di eranya dan banyak lagi.
Dalam catatan catatan kita, Amir Syarif merupakan sedikit dari jumlah pelukis kaligrafi Islam di tanah yang hingga saat ini tetap berkarya, bepameran dan bakarya lagi berisikan seperangkat pesan dan makna tentang manusia di muka bumi yang basumber dari Al Qur’an. Karya-karyanya juga berfungsi manjadi unsur disain, juga menjadi tekstur dan bahkan manjadi bagian lukisan yang ingin ditonjolkan sebagai pusat perhatian yang tampak detail, halus dan rapi dan berkolaborasi dengan ornamen-ornamen muatan lokal di banyak ruang di kanvasnya.
Menyinggung pula karya-karya lukisannya, menurut pelukis yang telah banyak makan asam garam dalam seni lukis ini terutama seni lukis kaligrafi Islam ia dalam berkarya selalu berpedoman teguh pada ayat-ayat Al-Qur’an. Dan kita tentulah tidak perlu takut atau menunggu komando dulu dari alim ulama boleh tidaknya melukis kaligrafi Islam sejauh jelas tujuan, fungsi dan sasarannya kemudian tidak manyimpang dari ajaran agama Islam seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an, ujar Amir Syarif kelahiran Lubuk Alung, 24 Juni 1939 ini menambahkan. (Muharyadi)
