Jakarta, Semangatnews.com – Awal Desember 2025 ditandai dengan naiknya harga beberapa jenis BBM non-subsidi yang dijual Pertamina. Produk Pertamax serta BBM diesel seperti Dexlite kini mencatat harga baru yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Penyesuaian ini langsung memicu kekhawatiran baru pada sektor transportasi dan masyarakat luas.
Pengemudi transportasi daring menjadi salah satu pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Pendapatan harian mereka diprediksi menurun karena biaya operasional meningkat. Banyak dari mereka mempertimbangkan untuk mengurangi jam kerja atau menaikkan tarif agar tetap memperoleh keuntungan.
Selain itu, sektor logistik juga mulai menyiapkan strategi menghadapi potensi biaya tambahan. Kenaikan harga BBM membuat biaya pengiriman barang menjadi lebih tinggi, terutama untuk perjalanan jarak jauh yang mengandalkan kendaraan diesel. Perusahaan ekspedisi memperkirakan adanya potensi penyesuaian tarif dalam waktu dekat.
Masyarakat umum yang menggunakan kendaraan pribadi pun mulai berhitung kembali dalam menggunakan mobil atau motor untuk aktivitas harian. Beberapa pengendara mengaku mulai membatasi perjalanan yang tidak mendesak demi menghemat pengeluaran. Perubahan perilaku ini diperkirakan terjadi di banyak daerah.
Di sisi lain, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar disambut positif oleh masyarakat. Stabilnya harga subsidi dianggap menjadi penopang penting, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Tanpa subsidi, tekanan inflasi diprediksi akan lebih besar.
Analis energi menilai kenaikan harga yang terjadi kali ini masih berada dalam batas wajar mengingat kondisi pasar global yang tidak menentu. Harga minyak mentah dunia sempat melonjak setelah sejumlah negara produsen mengumumkan pengurangan produksi. Hal ini membuat banyak negara harus menyesuaikan harga BBM domestik.
Meski demikian, beberapa pengamat ekonomi menilai penyesuaian harga ini dapat memicu inflasi musiman. Kenaikan harga barang konsumsi sering terjadi menjelang akhir tahun karena meningkatnya permintaan. Kondisi ini semakin kompleks jika biaya distribusi ikut terdampak oleh perubahan harga BBM.
Pelaku transportasi darat meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap sektor tersebut. Mereka berharap ada kebijakan pendukung seperti subsidi khusus atau insentif bagi transportasi publik untuk menjaga tarif tetap stabil. Transportasi umum dinilai sangat bergantung pada harga BBM agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Beberapa daerah bahkan mempertimbangkan revisi tarif angkot dan bus kota menyusul penyesuaian harga BBM. Namun sejumlah kepala daerah meminta operator menunggu keputusan resmi sambil memantau situasi perkembangan harga. Langkah ini dilakukan agar kenaikan tarif tidak terjadi secara mendadak.
Kondisi ini juga menambah urgensi bagi pemerintah dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik. Dengan harga BBM yang terus berfluktuasi, banyak pihak menilai kendaraan listrik dapat menjadi pilihan jangka panjang yang lebih stabil. Namun ketersediaan infrastruktur pengisian daya masih menjadi tantangan tersendiri.
Dengan berbagai dampak yang mulai terasa, masyarakat kini dihadapkan pada kebutuhan untuk lebih cermat mengatur konsumsi BBM. Perubahan harga di penghujung tahun membuat banyak orang harus menyesuaikan gaya hidup dan anggaran harian agar tetap aman secara finansial.(*)
