Jakarta, Semangatnews.com – Pep Guardiola resmi meninggalkan Manchester City setelah menjalani satu dekade penuh kesuksesan bersama klub asal Inggris tersebut. Keputusan pelatih asal Spanyol itu menutup salah satu era paling gemilang dalam sejarah sepak bola modern.
Guardiola memutuskan mengakhiri masa baktinya meski kontraknya bersama Manchester City sebenarnya masih berlaku hingga 2027. Ia memilih pergi lebih cepat karena merasa waktunya bersama The Citizens telah selesai.
Selama menukangi Manchester City sejak 2016, Guardiola sukses mengubah klub menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa. Ia mempersembahkan total 20 trofi, termasuk enam gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions.
Dalam pesan perpisahannya, Guardiola menegaskan keputusannya bukan dilatarbelakangi konflik dengan klub maupun pemain. Ia menyebut semua kenangan, hubungan, dan cinta terhadap Manchester City akan tetap abadi.
Laga terakhir Guardiola di Etihad Stadium berlangsung emosional. Ribuan suporter memberikan penghormatan khusus, sementara sejumlah pemain terlihat tak mampu menyembunyikan kesedihan mereka di pinggir lapangan.
Manchester City bahkan memberikan penghormatan besar dengan menamai salah satu tribun stadion menggunakan nama Guardiola. Sebuah patung juga dikabarkan akan dibangun sebagai simbol penghargaan atas jasa besarnya kepada klub.
Meski perpisahan Guardiola diwarnai kekalahan dari Aston Villa, suasana haru tetap mendominasi akhir pertandingan. Para pemain, staf, hingga keluarga Guardiola ikut larut dalam momen emosional tersebut.
Guardiola sendiri menilai trofi bukan satu-satunya pencapaian terbesar selama di Manchester City. Menurutnya, hubungan emosional dengan kota Manchester dan para pendukung menjadi warisan paling berarti dalam hidupnya.
Kepergian Guardiola langsung memunculkan spekulasi mengenai sosok penggantinya. Nama mantan asistennya, Enzo Maresca, disebut menjadi kandidat terkuat untuk melanjutkan proyek besar Manchester City.
Banyak pengamat menilai Guardiola telah mengubah wajah sepak bola Inggris lewat gaya permainan dominan berbasis penguasaan bola. Pengaruh taktiknya disebut akan tetap terasa meski dirinya tak lagi berada di Etihad Stadium.
Kini Manchester City memasuki babak baru tanpa Guardiola di kursi pelatih. Namun bagi para pendukung The Citizens, nama Pep Guardiola akan selalu dikenang sebagai arsitek utama era kejayaan terbesar dalam sejarah klub.(*)

