Perang Iran Picu Gejolak Harga Komoditas Pertanian, Petani dan Konsumen Merasakan Imbasnya

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Harga sejumlah komoditas pertanian global mengalami lonjakan tajam di tengah meruncingnya konflik di Iran yang berdampak pada rantai pasok dunia. Ketegangan geopolitik tersebut memicu lonjakan biaya produksi dan distribusi di sektor pertanian, sehingga harga komoditas semakin tak terkendali.

Sentimen pasar terhadap konflik di wilayah Timur Tengah telah memperburuk kondisi pasar komoditas, terutama karena kekhawatiran gangguan pasokan melalui jalur laut strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi akses vital bagi produksi dan ekspor energi sekaligus bahan input pertanian.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan tajam adalah pupuk sintetis, terutama urea dan nitrogen berbasis gas alam yang harganya melonjak signifikan. Lonjakan ini disebabkan oleh gangguan pasokan gas yang menjadi bahan baku utama pupuk, sehingga biaya produksi turut meningkat.

Bukan hanya pupuk, kenaikan harga gas alam di Eropa dan Amerika turut memperparah tekanan biaya di sektor pertanian. Volume perdagangan komoditas ini yang melalui wilayah konflik menyebabkan harga kilang bahan baku energi dan pupuk melonjak dalam hitungan hari.

Lonjakan biaya input seperti pupuk otomatis menaikkan biaya produksi petani di berbagai negara. Negara-negara importir komoditas pertanian besar kini menghadapi dilema antara menahan harga input dan menjaga produktivitas hasil panen di musim tanam mendatang.

Bahkan sejumlah analis memperkirakan bahwa kenaikan harga pupuk bisa diteruskan ke harga pangan pokok, seperti gandum, jagung, dan beras, yang sudah sensitif terhadap perubahan biaya produksi global. Risiko ini semakin besar jika konflik berkepanjangan.

Produk pertanian lain yang juga ikut terdampak adalah bahan pangan yang bergantung pada energi dan pupuk, termasuk komoditas gula dan minyak nabati, yang menjadi bagian dari rantai nilai global makanan.

Beberapa pelaku industri mengungkapkan kekhawatiran bahwa tingginya biaya logistik akibat naiknya biaya energi ikut menjadikan harga distribusi makanan mentah meningkat di pasar domestik sejumlah negara.

Masyarakat konsumen pun mulai merasakan tekanan harga di pasar lokal dengan beberapa harga barang kebutuhan pokok menunjukkan tren naik, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor pupuk dan bahan baku komoditas.

Pakar ekonomi pertanian menyatakan bahwa ketergantungan pada pasokan global membuat pasar komoditas pertanian sangat rentan terhadap gejolak geopolitik, dan konflik di Iran menjadi contoh nyata bagaimana perang bisa mengguncang ekonomi pangan dunia.

Pasar pun kini menantikan langkah kebijakan dari pemerintah berbagai negara untuk meredam gejolak harga tersebut, baik melalui dukungan finansial kepada petani maupun intervensi pasar untuk menstabilkan harga pangan di dalam negeri.

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, pelaku pasar dan konsumen global harus bersiap menghadapi periode volatilitas harga komoditas yang bisa berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.