Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat harga minyak dunia melonjak tajam hingga kembali menembus level psikologis US$100 per barel.
Lonjakan harga tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi militer antara Iran dengan Israel dan sekutunya. Para pelaku pasar khawatir konflik yang terus meluas akan mengganggu pasokan energi dari kawasan Teluk yang menjadi pusat produksi minyak dunia.
Data pasar menunjukkan harga minyak jenis Brent sempat diperdagangkan di kisaran lebih dari US$103 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$100 per barel pada awal perdagangan pekan ini.
Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran terganggunya jalur distribusi minyak global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi pengiriman energi dunia. Jalur tersebut mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak global setiap hari.
Sejumlah laporan menyebut aktivitas pelayaran tanker minyak di kawasan itu menurun drastis setelah meningkatnya serangan militer dan ancaman keamanan di perairan Teluk Persia.
Jika gangguan terhadap jalur pengiriman energi terus terjadi, pasokan minyak global bisa mengalami tekanan yang signifikan. Kondisi ini membuat harga energi semakin sensitif terhadap perkembangan konflik di kawasan tersebut.
Para analis energi menyebut lonjakan harga minyak kali ini menjadi salah satu yang paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sempat terjadi lonjakan ekstrem yang membawa harga minyak mendekati US$120 per barel sebelum kembali turun.
Ketidakpastian geopolitik juga mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke komoditas energi sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak pasar.
Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya terasa di sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan inflasi di berbagai negara karena biaya transportasi dan produksi ikut meningkat.
Beberapa negara bahkan mulai mengantisipasi potensi krisis energi jika konflik terus berlangsung dalam jangka panjang.
Para ekonom memperingatkan bahwa lonjakan harga energi yang berkepanjangan dapat menekan pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia.(*)

