Jakarta, Semangatnews.com – Pada Rabu (12/11), Presiden Prabowo Subianto tiba di Sydney, Australia, untuk pertemuan empat-mata dengan Perdana Menteri Anthony Albanese di kediaman resmi PM di Kirribilli House.
Prosesi dimulai dengan sambutan khusus di halaman depan kediaman, di mana Prabowo disambut langsung oleh Albanese, kemudian menandatangani buku tamu kenegaraan sebagai simbol penghormatan diplomatik sebelum memasuki ruang pertemuan.
Dalam pertemuan tertutup tersebut, kedua pemimpin membahas sejumlah isu penting: penguatan kerja sama ekonomi dan investasi, perkembangan sektor pertanian dan perikanan, serta peningkatan kapabilitas pertahanan dan keamanan maritim.
Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia memandang Australia sebagai mitra strategis jangka panjang, khususnya dalam mendukung akses produk pertanian dan perikanan Indonesia ke pasar Australia dengan memenuhi standar internasional.
Salah satu fokus utama adalah mendorong produk buah-buahan dan hasil perikanan Indonesia agar bisa memenuhi standar Australia; Prabowo menyebut bahwa kerja keras akan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas petani dan pelaku UMKM.
Di sektor energi dan mineral kritis, pertemuan tersebut turut membahas dukungan Australia dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dan transisi energi bersih yang saling menguntungkan.
Presiden Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas pemberian akses visa yang lebih mudah oleh Australia untuk warga negara Indonesia, khususnya pelajar dan mahasiswa, sebagai bagian dari peningkatan hubungan antarmasyarakat.
Dalam ranah diplomasi kawasan, Prabowo berharap Australia tetap memberikan dukungan terhadap keanggotaan Indonesia dalam forum-forum ekonomi internasional seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Sebelumnya, hubungan Indonesia dan Australia telah ditingkatkan ke kemitraan strategis komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) sejak 2018.
Dalam pertemuan ini, kedua pemimpin menyepakati untuk mempercepat ratifikasi perjanjian kerja sama pertahanan yang telah disepakati tahun sebelumnya, sebagai bagian dari komitmen penguatan keamanan bersama.
Kunjungan ini juga dianggap sebagai tindak lanjut dari kunjungan resmi PM Albanese ke Jakarta pada Mei 2025, menandakan pentingnya kontinuitas dialog dan kolaborasi antara kedua negara.(*)
