Peserta Workshop “Seni Kriya” Souvenir Khas Sumbar Memiliki Kemampuan Luar Biasa yang Perlu di Dukung Penuh Pemerintah Daerah

by -
Tiga narasumber Workshop Kriya “seni kriya” Inovasi Souvenir Khas Sumatera Barat, nomor dua dari kiri ke kanan Widdiyanti (canting buana dosen ISI Padangpanjang, Jupriani (dosen seni rupa FBS UNP dan paling kanan Yosef Sagari – Foto dok Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM, PADANG – Kemampuan dan skill peformance peserta workshop “seni kriya” Inovasi Souvenir Khas Sumatera Barat yang digelar UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat diikuti 40 an peserta dari berbagai kota dan kabupaten se Sumbar sejak 2 sd 4 Mei 2023 di Dinas Kebudayaan sangat memuaskan dan membawa angin segar bagi perkembangan dunia dengan tidak mengabaikan budaya lokal berisikan seperangkat nilai-nilai di dalamnya.

Souvenir tersebut bukan hanya bisa dilihat dari fisik dan bentuk semata yang dikerjakan peserta yang matoritas anak-anak muda milenial se Sumbar, tapi juga tampil menawan hingga memukau mata publik sebagai kekuatannya.

Tiga dari puluhan Peserta Workshop Batik kolaborasi tas pandan dengan hasil karya didampingi nara sumber, Widdiyanti dari Canting Buana Batik Kreatif Padangpanjang — Foto Muharyadi

Hal itu terungkap sebagaimana disampaikan tiga narasumber workshop kriya ; Widdiyanti (Owner Canting Buana Kreatif/Dosen Seni Kriya ISI Padangpanjang), Jupriani (Dosen Seni Rupa, FBS UNP, Padang) dan Yosef Sagari (kriayawan asal Mentawai dan alumni mahasiswa Sosiologi Unand) Kepada Semangarnews.com, Kamis Sore (4/05/23) di aula Workshop Dinas Kebudayaan Sumbar.

Widdiyanti melalui sesi kriya batik memberikan materi berupa tas sandang terbuat dari pandan mengkolaborasikan ecoprint berbasis kain disebagian bentuk tas dengan beragam motif-motif alam ternyata rata-rata peserta memiliki skill luar biasa selama kegiatan berlangsung.

Bukan tanpa alasan, tambah Widdiyanti, rata-rata para peserta workshop dari berbagai kota/kabupaten se Sumbar itu selain berusia muda sebagian diantaranya berstatus mahasiswa dan tamatan perguruan tinggi seni yang perlu dibina untuk ditindak lanjut di masing-masing daerah, jika kita tak mau disebut ketinggalan terus di banding pulau Jawa seperti Jogya, Bali dan Solo, dalam soal souvenir yang juga berpeluang besar meraup devisa untuk negara.

3. Diantara Hasil Workshop Batik Kolaborasi Tas Pandan Workshop Kriya yang digelar UPTD Taman Budaya Sumbar sejak 2 sd 4 Mei 2023 kemarin – Foto : Muharyadi

Nara sumber Jupriani dengan sesi materi sapu lidi bernilai estetika menarik, menyebut rata-rata kemampuan para peserta workshop sebenarnya dapat dijadikan point penting dalam menentukan pilihannya untuk mengerjakan souvenir sebagai cendra mata khas Sumatera Barat.

Tinggal bagaimana masing-masing daerah kabupaten/kota se Sumbar dapat membina dan menindaklanjuti hasil workshop ini agar tidak berakhir pada kegiatan workshop semata. Dan kemudian hilang begitu saja. Mereka merupakan aset daerah yang perlu dibina secara berkesinambungan kemudian menyebarluaskan kemampuan masing-masing di daerahnya.

Yosef Sagari narasumber dari Mentawai dengan materi cincin hias berbahan alami mengakui, Sumbar sebetulnya memiliki kekayan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang souvenir sejak lama. Tinggal sekarang bagaimana Pemprov, Pemkab/Pemko se Sumbar dapat mensinergikan kekayaan SDM tersebut menjadi kekuatan baru bidang seni kriya hingga menjadi tulang punggung banyak sektor seperti Dunia Pariwisata, sektor Perdagangan, Petindustrian dan lainnya agar gezah seni kriya kita bisa menasional bahlam mendunia.

Harapan Peserta

Sejumlah peserta workshop kriya dari berbagai daerah ini kepada semangatnes.com, menyebutkan, rata-rata peserta workshop kriya se Sumbar yang digelar UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Sumbar sejak 2 sd 4 Mei 2023 ini secara umum belum memiliki usaha sendiri di bidang souvenir di masing-masing daerah. Selama ini mereka kalau pun ada kegiatan paling-paling ikut membantu para perajin dalam mengerjakan souvenir itupun sifatnya situasional.

Karena memiliki usaha bidang souvenir yang benar-benar digandrungi publik yang berkunjung ke Sumbar atau warga Sumbar sendiri, selain diperlukan manajemen kemampuan dan skill peformance bidang souvenir tentu juga harus di dukung penuh pemeritah daerah terutama dalam bentuk modal usaha serta pembinaan secara berkelanjutan.

Momen Workshop ini setidaknya membuat kami terangsang untuk menindaklanjutinya di masing-masing daerah dengan beragam eksplorasi desain, bentuk, serta kemasan souvenir dengan tidak mengabaikan muatan budaya lokal, jelas Nila Fauzia (Ampek Angkek, Agam), Juli Dwi Sasmi (Kinali Pasaman) dan Rita Fiiri (Silungkang) menyebutkan mewakili peserta. (Muharyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.