SEMANGAT SUMBAR – Sumatera Barat (Sumbar) sering dilanda Inflasi pangan. Komoditi pangan seperti cabai dan bahkan jengkol pernah menyumbang inflasi besar di daerah ini. Hal tersebut, dikatakan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar Candra, sesungguhnya bisa dikendalikan dengan bantuan bapak angkat yang ada bagi para petani.
Kepada awak media Candra menerangkan, sekitar 637 ribu petani Sumbar membutuhkan Bapak Angkat untuk menampung hasil tani mereka.
“Bapak Angkat ini merupakan pihak yang mem-back para petani sehingga kesejahteraan petani turut meningkat karena hasil tani mereka ditampung oleh para Bapak Angkat,”jelas Candra.
Ditambahkan Candra, Keberadaan Bapak Angkat ini juga bisa mengontrol harga komiditi sehingga gejolak harga di pasar juga bisa terkendali.
Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar pada tahun ini mulai melakukan sosialisasi terkait pentingnya keberadaan Bapak Angkat untuk para petani.
Candra berharapan, tahun depan kita sudah punya Bapak Angkat. Kita memang baru merintis. Pada tahun 2018 nanti sudah bisa terealisasi
Di contohkan Candra, seperti para petani bawang di Kabupaten Brebes Jawa Tengah, yang memiliki Bapak Angkat yang menampung hasil tani mereka sekaligus menjadi pengontrol harga di pasar.
“Di Brebes, mereka punya kelompok yang menguasai pasar bawang, mereka memasukkan investor yang mengkawal hasil tani dan harganya. Artinya, ada yang membantu di belakang petani untuk menguasai hasil panen. Dengan demikian, gejolak harga di pasar bisa ditekan. Harga stabil, petani terbantu,” terang Candra.
Tidak hanya bawang tambah Candra lagi, petani komoditi lainnya juga butuh Bapak Angkat.
“Permasalahan kita sekarang, memang salah satunya tidak ada Bapak Angkat untuk para petani. Panen kita selalu dikuasai pengumpul yang tidak punya aturan sehingga memasarkan produk kemana-mana. Dengan ada Bapak Angkat pengontrolan bisa dilakukan. Apakah hasil tani dilempar ke luar provinsi atau diredam untuk Sumbar saja, itu bisa dikendalikan nanti,” jelas Candra.
Ditambahkan Candra, kehidupan petani belum mencapai taraf kesejahteraan yang diharapkan, mulai dari petani yang pure bekerja sebagai petani di lapangan, petani pengusaha, dan petani yang khusus hanya memasarkan hasil tani.
“Tingkatan petani ini yang perlu kita benahi. Di Sumbar kebanyakan yang ada adalah petani pure lapangan dan petani pengusaha. Kelompok ketiga sepertinya belum ada, yang hanya sebagai pemasar,” terangnya.
Selain adanya Bapak angkat, Candra juga berharap Kabupaten dan Kota di Sumbar menciptakan pasar induk masing-masing yang jadi titik pusat pengendali harga bahan pangan.
“Pasar induk ini, seperti pasar grosir, jadi luar tidak bisa seenaknya menaik-turunkan harga sehingga menciptakan inflasi. Pasar induk ini penting untuk Kabupaten dan Kota, sehingga harga pangan bisa terkendali dan inflasi terhindarkan,” pungkas Candra. (*)

