PILKADA SABUNG NYAWA

oleh -

PILKADA SABUNG NYAWA
Dhimam Abror Djuraid

Ibarat balapan, proses pilkada serentak sekarang ini sedang gaspol, full speed. Setelah proses pendaftaran di KPU beres, para calon kepala daerah itu langsung tancap gas.

Di beberapa daerah ada pawai, ada kumpulan massa, dan ada yang dangdutan. Sisa waktu yang tidak sampai tiga bulan menjelang coblosan masal 9 Desember dimanfaatkan seperti kebut-kebutan.

Di tengah kebut-kebutan itu tiba-tiba muncul seruan supaya kebut-kebutan dihentikan. Muncul seruan dari banyak kalangan supaya rem darurat ditekan dan pilkada ditunda.

Baca Juga:  Kabinda Aceh Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi

Situasi mutakhir dianggap tidak memungkinkan balapan pilkada tetap berlangsung. Perkembangan pagebluk Covid 19 yang makin memburuk belakangan ini membuat balapan pilkada sangat riskan menjadi klaster baru penyebaran pagebluk.

Tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam menerapkan protokol, dan belum ketatnya aturan penyelenggaraan yang diterapkan oleh KPU, membuat kekhawatiran makin besar.

Baca Juga:  Kenang Momen Sumpah Pemuda 1928, PWI Lepas 4 Anggotanya Jelajahi Nusantara

Sebanyak 105 juta pemilih pada hari yang sama akan datang ke TPS, tempat pemungutan suara. Risiko penularan diperkirakan akan sangat tinggi.

Kondisi makin prihatin ketika muncul kabar para petinggi KPU positif terjangkit Covid 19. Ketua Arief Budiman dan komisioner Pramono Ubed Tantowi dipastikan positif. Sementara komisioner Evi Novida Ginting dikabarkan negatif setelah sebelumnya dinyatakan positif.

Baca Juga:  Bantuan Set Top Box Gratis dari Pemerintah Untuk Tangkap Siaran Digital

Ketua KPU Sulawesi Selatan, Faisal Amir, menyusul dinyatakan positif. Jumlah itu akan memanjang jika seluruh ketua KPU daerah dan jajarannya dites masal.

No More Posts Available.

No more pages to load.