PMI Sumbar Butuh Dana Rp 1,5 Miliar Untuk Penanggulangan Bencana

oleh -

Ketua PMI Sumbar Aristo Munandar menyerahkan dokumen permohonan dana hibah kepada Sekdaprov Sumbar, Alwis

Semangatnews, Padang– Kepalangmerahan (dalam hal ini Palang Merah maupun Bulan Sabuit Merah) tidak hanya identik dengan donor darah. Bahkan lebih dari itu, hampir seluruh aspek kemanusiaan di tengah peperangan, konflik dan bencana Palang Merah hadir.

“Di Indonesia, karena luasnya tugas pokok dan fungsi itu membuat organisasi PMI harus berusaha sekuat tenaga mencapainya. Paling tidak prinsip ‘paling lama 6 jam setelah bencana harus ada di lokasi’ mesti kita upayakan untuk melaksanakan peran kemanusiaan PMI,” kata Ketua PMI Provinsi Sumatera Barat, H. Aristo Munandar lewan siaran pers yang disampaikan HUmas PMI Sumbar hari ini.

Untuk Sumatera Barat pada umumnya peranan PMI itu pada tugas-tugas kebencanaan. Bersama-sama dengan pemangku kepentingan lain seperti BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI dan Polri melaksanakan tugas di wilayah-wilayah bencana.

“Sumatera Barat itu kan terkenal dengan dengan istilah supermarket bencana seperti diistilahkan Pak Jusuf Kalla atau laboratorium bencana sebagaimana istilah yang diberikan Kepala BNPB Pak Doni Monardo. Dari satu bencana ke bencana berikutnya, PMI mengambil peran biasanya paling lama. Setelah semua relawan pergi, PMI masih bertahan di sana untuk membantu pengadaan air dan bantuan-bantuan pascabencana lainnya,” ujar mantan Bupati Agam itu.

Ia mengatakan sepanjang tahun 2019 saja ada 154 kali banjir di berbagai daerah di Sumbar. Belum lagi tanah longsor, kekeringan dan banjir bandang. (Data BPBD Sumbar: tahun 2019 terjadi bencana 746 kali bencana dengan 16 jenis jenis kejadian. Total kerugian mencapai Rp166.280.356.156. Antara lain pohon tumbang sebanyak 293 kejadian, disusul berikutnya banjir sebanyak 154 kejadian, kahutla (kebakaran hutan dan lahan) 99 kejadian, longsor dengan 93 kejadian, kekeringan 13 kejadian dan banjir bandang 13 kejadian.