Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memulai pembongkaran 109 tiang monorel yang selama puluhan tahun mangkrak di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Langkah ini menjadi penanda berakhirnya salah satu proyek transportasi paling kontroversial yang lama menghantui wajah ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, pembongkaran tiang monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said dilakukan sebagai bagian dari penataan ulang kawasan strategis tersebut. Selama bertahun-tahun, tiang-tiang beton itu dinilai mengganggu estetika kota sekaligus tidak memiliki fungsi apa pun bagi masyarakat.
Tiang monorel yang dibangun sejak awal 2000-an itu sebelumnya direncanakan menjadi tulang punggung transportasi massal Jakarta. Namun proyek tersebut terhenti di tengah jalan dan meninggalkan deretan struktur beton yang akhirnya menjadi simbol kegagalan pembangunan infrastruktur masa lalu.
Pramono menyampaikan, pembongkaran ini bukan sekadar menghilangkan tiang-tiang mangkrak, melainkan menjadi awal transformasi kawasan Kuningan. Area bekas monorel akan disulap menjadi ruang publik yang lebih tertata, ramah, dan bermanfaat bagi warga serta pengguna jalan.
Proses pembongkaran dilakukan secara bertahap dan sebagian besar dikerjakan pada malam hari. Langkah ini diambil untuk meminimalkan gangguan lalu lintas di salah satu koridor bisnis tersibuk di Jakarta yang setiap harinya dipadati kendaraan.
Pemerintah Provinsi DKI menargetkan seluruh pembongkaran rampung pada 2026. Setelah itu, penataan kawasan akan dilanjutkan dengan perbaikan trotoar, drainase, taman kota, hingga penerangan jalan agar kawasan Rasuna Said tampil lebih modern dan nyaman.
Terkait anggaran, Pramono menegaskan bahwa dana yang disiapkan tidak hanya digunakan untuk membongkar tiang monorel. Anggaran tersebut mencakup penataan menyeluruh kawasan agar memiliki fungsi sosial, estetika, dan ekonomi yang lebih baik.
Ia juga meluruskan anggapan publik soal besarnya biaya pembongkaran. Menurutnya, biaya untuk membongkar tiang monorel relatif kecil, sementara porsi anggaran terbesar dialokasikan untuk revitalisasi lingkungan di sepanjang koridor Kuningan.
Dalam kegiatan simbolis pembongkaran, Pramono turut mengajak sejumlah pejabat dan tokoh yang pernah terlibat dalam pengelolaan Jakarta. Kehadiran mereka menjadi simbol kesinambungan upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan lama yang tertunda.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik langkah pembongkaran. Ia menilai keputusan ini sebagai pilihan realistis untuk mengakhiri polemik proyek mangkrak yang sudah terlalu lama membebani wajah kota.
Dari sisi masyarakat, rencana penataan kawasan bekas monorel mendapat sambutan positif. Warga berharap area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang hijau, jalur pejalan kaki yang nyaman, atau fasilitas publik yang mendukung aktivitas perkotaan.
Dengan dimulainya pembongkaran 109 tiang monorel ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan komitmen untuk menata ulang ruang kota secara lebih berkelanjutan. Transformasi kawasan Kuningan diharapkan menjadi contoh bagaimana warisan proyek gagal dapat diubah menjadi peluang baru bagi kualitas hidup warga ibu kota.(*)
