Jakarta, Semangatnews.com – Pemimpin Emmanuel Macron secara resmi mengajak China untuk bergabung dalam upaya menciptakan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Seruan ini disampaikan saat pertemuan bilateral antara Macron dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Macron menyatakan bahwa situasi di Ukraina sangat serius dan mendesak. Ia menegaskan bahwa sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Prancis dan China memiliki tanggung jawab khusus untuk membantu merumuskan perdamaian yang adil, menghormati hukum internasional, dan menjamin stabilitas jangka panjang.
Dalam pidatonya, Macron mengusulkan agar China ikut mendukung setidaknya moratorium serangan terhadap infrastruktur vital di Ukraina sebagai langkah awal menuju gencatan senjata. Ide tersebut muncul di tengah upaya diplomasi internasional yang memuncak untuk mengakhiri konflik bersenjata di wilayah timur Eropa.
Tawaran tersebut disambut Xi dengan pernyataan bahwa China mendukung “semua upaya yang kondusif bagi perdamaian” dan siap memainkan peran konstruktif sesuai kapasitas dan kebijakan luar negerinya. China menegaskan ikut menghormati upaya penyelesaian politik terhadap krisis Ukraina.
Pertemuan diplomatik ini berlangsung di tengah ketegangan global. Invasi Rusia terhadap Ukraina telah memicu konflik berkepanjangan, korban kemanusiaan, dan kerusakan infrastruktur besar. Banyak negara berharap diplomasi internasional mampu menekan kekerasan dan membuka jalur perdamaian.
Usulan Prancis ini dianggap sebagai bagian dari strategi Eropa untuk melibatkan kekuatan dunia besar dalam solusi konflik — bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai mediator aktif. Dengan menarik China, harapan muncul bahwa tekanan terhadap Rusia bisa lebih efektif.
Namun, posisi China dianggap sensitif. Beijing selama ini menjaga sikap hati-hati terhadap konflik Rusia‑Ukraina, menghindari dukungan militer terbuka. Meski demikian, isu perdamaian dan stabilitas global membuat proposal Macron mendapat perhatian serius.
Di sisi internasional, ajakan ini memicu beragam tanggapan. Sebagian negara menyambut inisiatif sebagai langkah diplomasi realistis, sementara pihak lain skeptis melihat rekam jejak China dalam konflik global dan kerja sama dengan Rusia.
Para analis menilai bahwa keberhasilan ajakan Prancis tergantung pada konsistensi geopolitik China. Jika China bersedia mengambil peran aktif, itu bisa memberikan momentum untuk gencatan — tapi jika tidak, maka konflik kemungkinan besar terus berkepanjangan.
Seruan ini juga mencerminkan keinginan Eropa untuk mendiversifikasi aliansi dan memperkuat arsitektur keamanan multilateral, bukan hanya bergantung pada kekuatan militer Barat saja. Upaya diplomasi lewat dialog lintas kekuatan dinilai sebagai jalan damai yang lebih berkelanjutan.
Bagi Ukraina dan warga sipil yang terdampak perang, harapan muncul kembali bahwa negara besar dan berpengaruh bisa membantu menghentikan kekerasan — setidaknya lewat langkah simbolis seperti moratorium serangan dan negosiasi damai.
Namun jalan menuju perdamaian tetap panjang dan penuh tantangan. Semua pihak — termasuk Rusia — harus bersedia kompromi. Dunia kini menyaksikan apakah ajakan damai dari Prancis dan China dapat menjadi titik balik bagi konflik yang telah berlangsung bertahun‑tahun.(*)

