Jakarta, Semangatnews.com – Kekecewaan warga terhadap proyek jalan yang mangkrak terekspresikan dengan cara unik dan kreatif. Di sebuah kawasan permukiman, warga menyusun tumpukan paving yang terbengkalai menjadi bangunan menyerupai candi sebagai bentuk protes atas pembangunan jalan yang tak kunjung rampung.
Tumpukan paving yang seharusnya digunakan untuk pengerjaan jalan justru dibiarkan berbulan-bulan di tengah ruas jalan. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga sekaligus membahayakan pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Alih-alih membiarkan material proyek terus menumpuk, warga berinisiatif menyusunnya menjadi bentuk menyerupai candi kecil. Aksi ini dilakukan secara swadaya dan menjadi simbol sindiran terhadap proyek yang terhenti tanpa kejelasan.
Bangunan paving tersebut berdiri mencolok di sepanjang jalan, menarik perhatian warga sekitar maupun pengguna jalan. Bentuknya yang tak biasa membuat lokasi itu seketika menjadi pusat perhatian.
Bagi warga, aksi ini bukan sekadar lelucon. Penyusunan paving menjadi “candi” merupakan ungkapan kekecewaan terhadap lambannya penyelesaian pembangunan yang berdampak langsung pada mobilitas dan keselamatan.
Kondisi jalan yang belum selesai menyulitkan aktivitas harian masyarakat, mulai dari akses menuju tempat kerja, sekolah, hingga distribusi barang. Saat hujan turun, tumpukan paving juga membuat jalan menjadi licin dan rawan kecelakaan.
Aksi kreatif tersebut perlahan menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi perbincangan hangat. Banyak yang menilai cara ini lebih efektif menarik perhatian dibandingkan keluhan formal yang sering kali tak kunjung mendapat respons.
Warga berharap aksi simbolik ini dapat menggugah perhatian pihak terkait agar segera menuntaskan proyek yang mangkrak. Mereka menilai penyelesaian jalan merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat setempat.
Selain mengganggu kenyamanan, proyek yang tertunda juga dinilai mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan. Warga menuntut adanya kepastian mengenai kelanjutan pembangunan.
Meski demikian, warga menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan tanpa niat merusak fasilitas umum. Mereka hanya ingin suaranya didengar dan proyek segera dilanjutkan.
Fenomena protes kreatif ini mencerminkan cara masyarakat menyampaikan aspirasi secara damai namun penuh makna. Aksi simbolik dianggap menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh publik luas.
Dengan “candi” dari paving sebagai pengingat, warga berharap pembangunan jalan dapat segera diselesaikan sehingga akses transportasi kembali normal dan kehidupan masyarakat berjalan lebih lancar.(*)
