Jakarta, Semangatnews.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tengah menyimpan sosok sentral yang diyakini akan mendongkrak elektabilitas partai di pemilu mendatang. Figur ini, yang selama ini disapa ‘Bapak J’, belum diumumkan secara resmi. Namun PSI yakin bahwa kehadirannya akan membawa partai tersebut masuk ke parlemen, bahkan setidaknya berada di posisi lima besar.
Ketua Bidang Politik PSI, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa pengumuman mengenai nama ‘Bapak J’ akan dilakukan segera oleh Ketua Umum, Kaesang Pangarep. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar drama politik semata, melainkan bagian dari strategi komunikasi yang dirancang agar PSI tetap berada dalam sorotan publik dan menarik potensi pemilih baru.
Meski keyakinan tinggi ditunjukkan, PSI memilih merahasiakan identitas ‘Bapak J’. Alasan utamanya adalah agar figur tersebut selalu dalam radar publik dan media tetap penasaran. Strategi ini dianggap efektif untuk menjaga momentum perhatian terhadap PSI, terutama menjelang pemilu.
Dalam pandangan PSI, sosok ‘Bapak J’ akan membawa efek simbolis dan substantif. Simbolis karena nama besar figur itu akan menarik partai dalam diskursus politik nasional; substantif karena diharapkan dirinya memiliki jaringan, kredibilitas, dan kemampuan untuk menggerakkan mesin partai ke pelosok.
Bestari Barus menyatakan bahwa PSI sedang melakukan pembenahan struktural dari pusat hingga akar rumput. Kepengurusan partai untuk periode 2025–2030 telah disahkan, namun unsur kunci seperti Dewan Pembina — khususnya identitas ‘Bapak J’ — sengaja belum dipublikasikan untuk menjaga fleksibilitas manuver politik.
Namun tidak sedikit pengamat politik yang mempertanyakan efektifitas strategi tersebut. Sebagian berpendapat bahwa merahasiakan figur penting bisa menjadi bumerang jika publik menilai PSI tidak transparan. Di sisi lain, jika pengumuman dilakukan terlalu cepat tanpa dukungan substansi nyata, antisipasi publik bisa luntur.
Dalam suasana partai yang dinamis, PSI dengan penuh optimisme menyatakan targetnya tidak sekadar lolos ke parlemen, melainkan masuk ke lima besar partai peraih kursi. Target ambisius ini mencerminkan harapan bahwa ‘Bapak J’ mampu menjadi magnet utama.
Untuk mencapai target itu, PSI tidak hanya bergantung pada figur sentral. Mereka juga gencar memperkuat basis akar rumput, mengintensifkan konsolidasi internal, dan memperluas kegiatan publik agar penetrasi ke pemilih muda makin kuat.
Meski PSI menyisakan misteri di balik ‘Bapak J’, publik dan pesaing politik terus memperhatikan manuver partai ini. Tekanan media dan spekulasi akan terus meningkat menjelang pengumuman resmi.
Kini PSI berada di persimpangan strategis: apakah pengumuman ‘Bapak J’ akan menjadi loncatan besar menuju parlemen, atau justru memunculkan ekspektasi terlalu tinggi yang berisiko menimbulkan kekecewaan? Waktu dan respons publiklah yang akan menjawab.(*)
