Jakarta, Semangatnews.com – Dunia militer Indonesia berduka atas berpulangnya Marsda TNI Wahyu Hidayat Sudjatmiko pada Sabtu malam (18 Oktober 2025) setelah menjalani masa perawatan karena sakit. Almarhum sempat dirawat di RS Mayapada sebelum ajal menjemput.
Kariernya di Korps TNI Angkatan Udara (AU) berlangsung sangat cemerlang, bermula dari Akademi Angkatan Udara (AAU) angkatan 1993 dan kemudian meniti jabatan-jabatan tinggi termasuk sebagai komandan satuan elite serta menjabat sebagai Danpaspampres di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Lahir di Jakarta pada 16 September 1971, Wahyu merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dan berangkat dari latar belakang keluarga militer. Sejak muda ia menunjukkan tekad kuat untuk mengabdi kepada bangsa dan negara melalui militer.
Dalam perjalanan karier, Wahyu memilih jalur Kopasgat, satuan pasukan khusus TNI AU, dan kemudian memperluas kiprahnya hingga masuk ke struktural pengamanan presiden sebagai orang kepercayaan di lingkungan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Ia menjadi komandan Paspampres pertama yang berasal dari TNI AU, sebuah pencapaian historis.
Pangkat dan posisinya terus naik: dari komandan skadron hingga ke pimpinan kelompok elite, dan akhirnya dipercaya sebagai Perwira Staf Ahli Tingkat III Bidang Intekmil dan Siber di lingkungan Panglima TNI. Semua itu membuktikan kualitas dan dedikasi yang tinggi.
Rekan sejawat menggambarkan Wahyu sebagai sosok pemimpin tegas sekaligus dekat dengan anggota-anggotanya, yang tidak sekadar mengejar jabatan tetapi juga memahami arti pengabdian. Ia juga dikenal dekat dengan keluarga dan selalu menjaga keseimbangan antara tugas dan kehidupan pribadi.
Kabar kepergiannya membuat banyak pihak terpukul, termasuk jajaran TNI AU, Paspampres, dan seluruh keluarga besar militer. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai lintas institusi, menandakan pengaruh serta rasa hormat yang mendalam terhadap almarhum.
Pihak keluarga telah menerima duka dengan tabah, sementara upacara pemakaman direncanakan di Taman Makam Bahagia (TMB) TNI AU Jatisari, Bekasi, setelah ibadah zuhur — penanda penghormatan terakhir bagi salah satu prajurit bangsa yang telah mengabdikan nyawanya bagi negara.
Di tengah dunia yang terus berubah dan tantangan baru bagi pertahanan negara, warisan profesionalisme Wahyu diyakini akan terus hidup di kalangan generasi militer muda sebagai teladan integritas dan pengabdian tanpa pamrih.
Kini, nama Wahyu Hidayat Sudjatmiko akan selamanya tercatat dalam lembaran sejarah TNI sebagai pemimpin yang menembus batas angkatan, dan pengabdi yang menjunjung tinggi moto “Setia, Waspada”. Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bahwa karier militer bukan hanya soal pangkat, tetapi soal dedikasi dan tanggung jawab.(*)

