Jakarta, Semangatnews.com – Vladimir Putin kembali menegaskan ketegasan Rusia dalam konflik Ukraina dengan ultimatum diplomatik dan militer: jalin damai sesuai tuntutan Moskow, atau hadapi tekanan militer lebih besar jika rencana damai ditolak.
Menurut Putin, rencana perdamaian 28 poin yang diusulkan Amerika Serikat bisa menjadi fondasi penyelesaian konflik, namun hanya jika Ukraina sungguh-sungguh bersedia mengakomodasi sejumlah tuntutan Rusia, termasuk soal pengakuan wilayah yang direbut.
Pentagon Rusia menilai bahwa penolakan Ukraina terhadap usulan damai itu menunjukkan ketidakmauan Kyiv untuk mengakui realitas geopolitik saat ini. Putin menyebut bahwa militer Rusia akan “melanjutkan maju” jika dialog damai gagal.
Dalam pidatonya kepada pejabat tinggi Rusia, Putin menyatakan bahwa tentara Rusia tidak berada di posisi lemah, melainkan tengah dalam fase strategis. Ia menggunakan kekuatan militer sebagai alat negosiasi sekaligus ancaman jika perdamaian tak realistis menurut pihaknya.
Kremlin kemudian menjelaskan bahwa salah satu syarat perdamaian menurut Rusia adalah ketiadaan pasukan asing di Ukraina. Putin menegaskan bahwa pasukan dari negara ketiga akan dianggap sebagai target sah dalam konflik, jika memang ditempatkan di Ukraina.
Sikap keras Putin muncul di tengah situasi diplomatik yang makin kompleks. Rusia menyatakan kesiapan berunding, namun dengan tuntutan yang sangat berat dan jangkauan geopolitik luas — dari pengakuan wilayah hingga netralitas militer Ukraina.
Sementara itu, Ukraina belum memberikan respons tegas atas ultimatum Putin. Kremlin melaporkan bahwa pihaknya belum menerima kabar bahwa Zelensky siap menyetujui rencana damai yang diusulkan AS dan Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara terbuka menolak syarat penyerahan wilayah yang diajukan dalam rencana damai. Baginya, menyerahkan wilayah berarti melepas landasan kedaulatan dan mempertaruhkan masa depan negaranya.
Beberapa negara Eropa sudah menyoroti kekhawatiran bahwa rencana damai tersebut justru menguntungkan Rusia lebih banyak, terutama dalam soal konsesi wilayah. Kritik ini menunjukkan bahwa solidaritas Barat terhadap Ukraina tetap kuat meski ada desakan damai.
Dalam kalkulasi Moskow, tekanan militer dan diplomat adalah dua wajah dari satu strategi. Putin tampak siap menoleransi dialog damai, tapi dia juga tidak segan untuk menggunakan kekuatan sebagai “opsi B” jika perundingan gagal.
Akhirnya, ancaman Putin ini kembali menegaskan bahwa konflik Ukraina belum dekat ujungnya. Damai mungkin dihitung, tetapi jalan menuju perdamaian penuh tetap sangat bergantung pada dinamika kekuatan dan kesepakatan geopolitik yang rumit.(*)
