Putin Tegaskan Rusia Siap Rebut Donbas dengan Segala Cara

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia akan mengambil alih keseluruhan wilayah Donbas di Ukraina, menggunakan kekuatan militer atau cara lain jika pasukan Ukraina tidak menarik diri. Pernyataan ini disampaikan menjelang kunjungannya ke New Delhi, dalam wawancara yang disiarkan oleh media Rusia.

Putin menuturkan bahwa opsi penaklukan ini dipertimbangkan jika pasukan Ukraina tetap bertahan di kawasan tersebut. “Kami akan membebaskan wilayah ini dengan kekuatan senjata, kecuali mereka memilih mundur,” katanya.

Menurutnya, klaim terhadap Donbas bukan sekadar strategi militer — melainkan bagian dari visi geopolitik Rusia: bahwa kawasan ini secara historis dan kultural seharusnya berada di bawah kendali Moskow.

Kepastian pernyataan keras ini datang di tengah upaya diplomasi, termasuk pertemuan antara Rusia dan utusan Amerika Serikat akhir pekan lalu. Meskipun demikian, Putin menegaskan bahwa selama Kyiv tidak menerima klaim Rusia, Moskow tidak akan menarik tuntutannya.

Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran di masyarakat internasional — karena dapat berarti eskalasi militer di wilayah timur Ukraina. Kawasan Donbas, yang terdiri dari wilayah Donetsk dan Luhansk, selama ini sudah menjadi titik panas konflik antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Di Ukraina, respons terhadap ultimatum Rusia sangat tegas. Pemerintah di Kyiv dan pemimpin negara menolak keras klaim Rusia bahwa Donbas adalah milik Moskow. Bagi mereka, wilayah tersebut adalah bagian utuh dari kedaulatan Ukraina.

Konflik berkepanjangan telah menimbulkan kerusakan infrastruktur masif serta krisis kemanusiaan yang memprihatinkan. Kini, dengan ancaman terbaru dari Kremlin, kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi peningkatan korban sipil kembali meningkat.

Pekan lalu, Rusia — melalui pasukan militernya — mengklaim telah menguasai wilayah strategis seperti Pokrovsk di Donetsk, yang dipandang sebagai langkah signifikan untuk memperluas kendali. Pencapaian ini dianggap oleh banyak analis sebagai upaya memperkuat posisi tawar Moskow dalam negosiasi masa depan.

Namun Ukraina bersikeras bahwa setiap upaya aneksasi lebih lanjut akan ditolak. Pemerintah Kyiv menyatakan tidak akan menyerah atau mempertimbangkan konsesi atas tanah air mereka.

Di tengah ancaman eskalasi militer, banyak negara Barat dan sekutu Ukraina menyerukan segera penghentian permusuhan dan kembalinya jalur diplomasi. Tapi dengan sikap keras Kremlin, masa depan negosiasi terlihat makin suram.

Kini dunia mengawasi dengan cemas: apakah ancaman Rusia hanya retorika keras — atau benar‑benar menjadi pintu bagi gelombang konflik baru yang bisa mengguncang stabilitas Eropa dan keamanan internasional.

Kondisi ini menegaskan bahwa situasi di Donbas tetap menjadi titik fokus konflik Ukraina-Rusia dan pengawasan global, sementara para pemimpin dunia menunggu langkah selanjutnya dari Kremlin dan Kyiv.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.