REM DARURAT PENANGKAL KEMATIAN

oleh -

*REM DARURAT PENANGKAL KEMATIAN*

Oleh : Chazali H. Situmorang *)

Saya tertegun membaca headline berita Koran Tempo hari Kamis 10 Septembe 2020, dengan judul MENUJU AMBRUK. Koran itu mengulas berbagai indikator menunjukkan situasi pandemi terus memburuk. Sistem kesehatan dikhawatirkan tak akan lagi bisa menampung pasien baru. Pemerintah DKI menetapkan kembali pembatasan sosial berskala besar mulai Senin, 14 September mendatang.

Kita kutip apa kata Presiden Jokowi 7 September 2020, “ Jangan sampai urusan kesehatan ini belum tertangani dengan baik, kita sudah me – restart ekonomi. Kesehatan tetap nomor satu”.

Seolah gayung bersambut, Gubernur Anies 9 September 2020, menyatakan “ Dengan melihat kedaruratan ini, maka tidak banyak pilihan bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat sesegera mungkin”.

Tetapi hari ini, di media elektronik maupun media cetak Anis di Bully politisi-politisi partai politik ( tak usah disebut namanya), yang menyebut langkah Anis tidak tepat. Anis kurang tegas menerapkan disiplin pada masyarakat karena tidak mematuhi protokol kesehatan ( 3 M), tetapi kalangan kesehatan para dokter , profesor ahli epidemiologi mendukung langkah Anis.

Bahkan ada dari Kadin dalam diskusi di TV One (Kamis, 10 Sept.2020) memberikan ilustrasi yang bagus sekali. Selesaikan dulu akar masalahnya yaitu kesehatan (mengendalikan virus), baru diperbaiki ekonominya. Jika akarnya tidak tuntas, bantuan sosial dikucurkan terus untuk menopang ekonomi rakyat, ibarat mengisi kaleng yang bocor. Berapa banyak diisi air, tidak ada gunanya sebab akan bocor terus. Langkah yang perlu dilakukan adalah menambal ember yang bocor itu, baru diisi air, pasti sebentar saja sudah penuh, dan tidak perlu di tambah air lagi.