SEMANGATNEWS.COM – Seperti film Mulan, Raya and The Last Dragon adalah film Hollywood yang juga menggaet selebriti Indonesia untuk jadi pengisi suara.
Diantaranya Mikha Tambayong, Ayu Dewi, dan Eva Celia. Sebelumnya Yuki Kato, Luna Maya dan Dion Wiyoko telah jadi pengisi suara dalam film garapan Disney tersebut.
Sementara film Raya and The Last Dragon bercerita tentang kisah dahulu kala di dunia fantasi Kumandra, manusia dan naga hidup bersama secara harmonis.
Namun, ketika monster jahat yang dikenal sebagai Druun mengancam daratan, para naga mengorbankan diri mereka untuk menyelamatkan umat manusia.
Sekarang, 500 tahun kemudian, monster yang sama telah kembali, dan seorang prajurit hadir untuk mencari naga terakhir dan menghentikan Druun untuk selamanya.
Telah rilis di Indonesia pada 3 Maret 2021 lalu versi bahasa asing, namun versi bahasa Indonesianya akan segera ditayangkan lagi dengan Mikha Tambayong, Ayu Dewi, dan Eva Celia sebagai pengisi suaranya.
Film animasi Disney terbaru yang disutradarai oleh Don Hall dan Carlos Lopez ini menceritakan sebuah kisah petualangan dari seorang wanita bernama Raya dalam menyelamatkan dunia.
Film Raya and the Last Dragon yang berdurasi 107 menit ini tayang di bioskop pada tanggal 3 Maret 2021 dan tersedia di Disney+ dengan biaya tambahan.
Nuansa film mengambil inspirasi dari beberapa budaya Asia Tenggara dan memadukannya dengan fiksi.
Berawal dari sebuah negeri bernama Kumandra yang hancur akibat kakuatan jahat bernama Druun sehingga mempecah belah warga dan membagi negeri tersebut menjadi 5 bagian yaitu Fang, Heart, Talon, Tail, dan Spine.
Mereka saling menyerang satu sama lain hingga 500 tahun kedepan untuk memperebutkan sisa roh naga yang di jaga ketat oleh negeri bagian Heart.
Suatu hari, pemimpin negeri bagian Heart, ayah Raya bernama Benja, mengundang semua negeri bagian ke tanahnya dalam rangka mengusulkan untuk saling berdamai.
Tetapi, mereka saling berkhianat dan bertengkar yang menyebabkan roh naga tersebut terpecah menjadi 5 bagian dan masing-masing negeri bagian mengambil satu pecahan.
Saat roh naga itu terpecah, muncul kembali lah Druun yang dapat mengubah orang-orang menjadi batu termasuk Benja.
Untuk mengembalikan ayahnya dan warga negeri menjadi seperti semula, Raya melakukan pencarian terhadap naga terakhir untuk membantunya mengembalikan negeri ini menjadi normal dan mempersatukannya lagi menjadi satu Kumandra.
Tantangan dalam menyelamatkan negeri ini, Raya harus mengumpulkan semua pecahan-pecahan roh naga di setiap negeri bagain untuk mengalahkan Druun.
Dari film Raya and the Last Dragon ada beberapa elemen dari Indonesia yang saya dapat seperti wayang pada saat Virana, pemimpin negeri Fang, sedang bercerita kepada anak-anak di negeri tersebut.
Dapat dilihat juga pemandangan sawah yang mirip seperti di Indonesia.
Alur cerita film ini sebenarnya cukup klise dimana ada seorang tokoh utama yang ingin menyelamatkan dunia dan membuatnya menjadi lebih baik, tetapi dibuat tidak membosankan dengan diselingi adegan-adegan lucu.
Setelah Moana dan Mulan, Disney kini perkenalkan satu pejuang wanita baru yang tak kalah tangguh, yaitu Raya.
Dalam film yang baru saja dirilis. Raya diperkenalkan dalam film Raya and the Last Dragon yang tayang sejak 3 Maret di bioskop.
Dalam cerita berdurasi 107 menit ini, Raya harus menemukan sosok naga legendaris untuk menyelamatkan dunia.
Dalam film ini, Disney kembali mempertontonkan film animasi petualangan yang seru dengan grafis yang memukau.
Film Raya and the Last Dragon bercerita tentang sebuah negeri bernama Kumandra yang tercerai berai.
Mereka saling berselisih satu sama lain karena sama-sama menginginkan roh naga yang kebetulan dijaga ketat oleh orang-orang dari klan Hati.
Sampai satu ketika Benja, kepala dari klan Hati mengundang semua petinggi klan dari negeri Kumandra dan mengusulkan perdamaian.
Namun, terjadilah pengkhianatan. Roh naga yang dijaga ketat selama 500 tahun jatuh dan pecah menjadi 5 bagian.
Masing-masing klan membawa satu pecahan roh naga.
Ketika roh naga pecah, makhluk bernama Druun muncul kembali dan mengubah orang menjadi batu. Druun hanya takut dengan air dan kepingan roh naga.
Satu-satunya yang bisa menyelamatkan negeri dari kehancuran Druun adalah bangkitnya naga terakhir yang 500 tahun lalu berhasil memusnahkan Druun dari negeri Kumandra.
Raya, sebagai keturunan penjaga roh naga bertanggung jawab untuk membuat kondisi ini menjadi normal kembali.
Dia harus membangkitkan naga terakhir dan mengumpulkan semua kepingan roh naga untuk mengalahkan Druun.
Namun, kebencian antar klan menjadi tantangan bagi Raya.
Jadi, sanggupkah Raya menemukan naga legendaris dan mengumpulkan tiap kepingan roh untuk mengembalikan kondisi negeri seperti semula?
Ketika nonton film Raya and the Last Dragon, ada banyak elemen yang dirasa cukup dekat dengan Indonesia.
Mulai dari senjata andalan Raya yang berupa pedang yang menyerupai keris. Lalu, warna kulit Raya yang sawo matang khas orang Indonesia.
Kemudian, lanskap pemandangan sawah-sawah yang mirip dengan Indonesia, juga kostum para prajurit yang sekilas identik dengan kostum prajurit kerajaan Indonesia di masa kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.
Tak sampai di situ, ada adegan ketika Virana, kepala klan Taring, mendongeng kepada anak-anak menggunakan boneka seperti wayang, dan ada adegan seorang wanita tengah membatik.
Semua elemen itu akhirnya bisa dimaklumi ketika Disney menyebut inspirasi dari film ini memang terinspirasi dari daratan Asia Tenggara.
Jadi terjawab sudah kenapa Raya berkulit sawo matang dan menggunakan senjata layaknya keris.
Teringat ketika Disney membuat Moana (2016), kala itu animasi tersebut terinspirasi dari orang-orang di dataran Oceania yang menggantungkan hidupnya dari laut.
Raya bisa dibilang adalah putri mahkota. Namun, dia tak seperti Elsa atau Rapunzel yang kehidupannya ada di sekitar istana dan pangeran.
Sebab itu, tujuan dari film ini bukan seorang putri yang hidup bahagia selamanya.
Film Raya and the Last Dragon punya pesan tentang persatuan dalam perbedaan.
Hal itu sudah digaungkan sejak awal film ketika Benja, kepala Klan Hati, menyebut bahwa persatuan akan menghasilkan perdamaian.
Semangat itu yang kemudian dibawa terus oleh film ini sampai akhir.
Bahkan di akhir film, bukan sekadar pesan persatuan yang ditonjolkan.
Melainkan juga soal kepercayaan dan meyakini satu sama lain meski masing-masing berasal dari kelompok yang berbeda.
Pesan keberagaman dalam persatuan dan kepercayaan yang muncul antargolongan ini sangat terbuka dan benar-benar dapat dirasakan oleh penonton.
film ini mampu meraciknya dengan lezat, backsound hingga soundtrack yang dilekatkan dalam film seolah menyatu dan membuat tiap adegan punya rasanya masing-masing. Film ini disutradarai oleh Carlos López Estrada dan Don Hall yang dulu juga menyutradarai film Moana.
Karakter Raya disuarakan oleh Kelly Mane Tran. Sisu, sang naga legendaris yang kocak diisi suaranya oleh Awkwafina.
Ada juga Gemma Chan yang mengisi suara Namari dan Daniel Dae Kim yang mengisi suara karakter Benja.
Semuanya berhasil mewakili suara tiap-tiap karakter dengan sesuai porsi.
(sumber : sinematografi.ui & kincir)
