Ridwan Dt Tumbijo : Penulisan Buku Siti Manggopoh Agar Sejarah Tidak Hilang Dalam Ingatan Generasi

by -
Anggota DPRD Provinsi Sumbar Ridwan Dt Tumbijo menerima kunjungan Kabid Jarahnitra Dinas Kebudayaan Sumbar dan staf

Semangatnews.com, Padang – Saat ini sudah ada beberapa buku tentang perjuangan Siti Manggopoh namun masih bersifat biografi dan mencerminkan sekilas perjuangannya. Jika kita tidak mampu mengungkapkan sejarah perjuangan Siti Manggopoh secara benar pada masanya itu dikawatir sejarah perjuangan Siti Manggopoh hanya akan jadi cerita dongeng dari generasi ke generasi.

Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Ridwan Dt Tumbijo saat koordinasi dengan tim teknis pelaksanaan kegiatan pembuatan buku sejarah perjuangan Siti Manggopoh Kepala Bidang ( Kabid) Sejarah, Adat dan Nilai-Nilai Tradisi (Jarahnitra) Dinas Kebudayaan Sumbar, di ruang kerjanya, Kamis (22 Januari 2026).

Ridwan Dt Tumbijo lebih lanjut menambahkan, oleh karena itu pembuatan buku Siti Manggopoh ini mengugah setiap tanggal 16 Juni, sejarah mencatat perjuangan heroik rakyat Sumatera Barat (Sumbar) dalam Perang Belasting, sebuah pemberontakan melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1908.

“ Perang ini merupakan perlawanan ini dipicu oleh kebijakan pajak tanah yang memberatkan, memicu semangat juang rakyat Minangkabau untuk mempertahankan hak dan martabat mereka. Peristiwa ini bukan sekadar konflik, tetapi simbol keberanian rakyat menghadapi ketidakadilan penjajah kolonial Belanda,” ungkapnya.

Ridwan menambahkan, perang Belasting bermula dari penolakan rakyat Sumbar terhadap pajak langsung yang diberlakukan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kebijakan ini dianggap merampas hak rakyat atas tanah mereka, yang telah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Minangkabau.

“Perang Belasting bukan sekadar soal pajak, tetapi juga cerminan perlawanan terhadap dominasi asing yang mengancam identitas budaya dan otonomi lokal. Rakyat Minangkabau, yang dikenal dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah ,menolak tunduk pada aturan yang dianggap tidak adil menyiksa kehidupan rakyat”, terangnya.

Ridwan mengatakan, peristiwa ini meninggalkan warisan semangat juang  yang terus dikenang hingga kini. Rakyat Sumbar membuktikan bahwa keberanian dan persatuan bisa menggoyahkan dominasi penjajah, meski dengan sumber daya yang terbatas.

“Perang Belasting menjadi inspirasi perjuangan bangsa, termasuk pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945–1949. Nah hal-hal ini yang mungkin kita dalami dalam penulisan nanti dengan juga melengkapi data-data dari perpustakaan di Belanda, serta perlu juga kita menjajaki kondisi di Menado tentang keberadaan suaminya yang dibuang di sana,” harapnya.

Kabid Jarahnitra, Zardi Syahrir, SH.MM dalam kesempatan itu juga menyampaikan pembuatan buku sejarah ini juga bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai perjuangan, adat dan budaya Minang yang dilakukan Siti Manggopoh sosok perempuan pemberani membela kepentingan rakyat.

” Konsultasi dan pertemuan dengan Nyiak Ridwan Dt. Tumbijo ini bagian proses pelaksanaan pembuatan buku ini  sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku serta ada beberapa tahapan yang akan dilakukan termasuk nantinya adanya Forum Group Diskusi (FGD) untuk menyempurnakan penulisan buku sejarah ini,” ujarnya.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut pejabat fungsional Sub Adat Ridho Arifandi, S.STP, MSi dan Helma Fitri, S.hum, M.hum, adalah Pamong Budaya Ahli Pratama dan Sutrino masyarakat Lubuk Basung Agam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.