Jakarta, Semangatnews.com – Suasana keamanan di Arab Saudi kembali menjadi perhatian setelah ancaman serangan drone dari kelompok Houthi mencapai ibu kota Riyadh. Di tengah peringatan serangan udara yang diterima warga, Arab Saudi dilaporkan meningkatkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai kelompok tersebut di Yaman.
Kelompok Houthi menyatakan pasukan Saudi melancarkan 26 serangan dalam waktu 24 jam. Serangan itu disebut menyasar sejumlah wilayah yang berada di bawah kendali Houthi dan dimulai pada Jumat (18/9/2026).
Houthi juga mengeklaim jumlah serangan Saudi dalam satu pekan terakhir telah mencapai sekitar 300 serangan. Klaim tersebut muncul ketika kedua pihak saling melakukan serangan dan ketegangan militer di kawasan semakin meningkat.
Ancaman terhadap Saudi terjadi setelah Houthi melancarkan serangkaian serangan drone ke sejumlah lokasi. Riyadh menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah suara ledakan terdengar di ibu kota Saudi pada Sabtu (19/9), tidak lama setelah peringatan bahaya udara dikeluarkan.
Otoritas pertahanan sipil Saudi kemudian menyatakan status peringatan telah berakhir setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan bahaya di Riyadh dan Al-Kharj. Seorang jurnalis Reuters di Riyadh juga melaporkan mendengar dua suara ledakan di kawasan Olaya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa konflik yang berpusat di Yaman kembali memiliki dampak langsung terhadap keamanan wilayah Arab Saudi. Serangan lintas batas antara kedua pihak meningkat setelah konflik yang sebelumnya relatif mereda kembali memasuki fase eskalasi.
Houthi merupakan kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat di Yaman. Dalam perkembangan terbaru, kelompok tersebut juga dilaporkan memperluas kendali di sepanjang pesisir Laut Merah hingga kawasan yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandab.
Kondisi di kawasan tersebut menjadi perhatian karena Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan keamanan di jalur tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional.
Konflik Saudi dan Houthi sendiri telah berlangsung sejak 2014, ketika Houthi merebut Sanaa. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi kelompok tersebut.
Eskalasi terbaru juga telah menimbulkan korban. Pada 17 September, otoritas Saudi menyatakan satu orang tewas setelah sebuah drone yang diluncurkan dari Yaman dicegat di wilayah Taif. Di Yaman, laporan dari pihak Houthi juga menyebut adanya korban akibat serangan di sejumlah wilayah.
Dengan serangan udara Saudi dan serangan drone Houthi yang terus berlangsung, situasi keamanan Yaman dan Arab Saudi masih berkembang. Perkembangan tersebut juga mendapat perhatian negara-negara lain karena menyangkut stabilitas kawasan serta keamanan jalur pelayaran strategis di Laut Merah.(*)

