Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan pergerakan dinamis pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Sejak awal perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif seiring respons pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan sentimen investor yang masih berhati-hati.
Pada pembukaan pagi hari, rupiah sempat menguat tipis dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu. Penguatan awal ini mencerminkan adanya optimisme pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik serta masuknya aliran dana jangka pendek ke pasar keuangan Indonesia.
Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan terhadap rupiah mulai terasa. Penguatan dolar AS di pasar global membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali berada di bawah tekanan sehingga pergerakannya berbalik melemah.
Sentimen eksternal menjadi faktor dominan dalam pergerakan nilai tukar hari ini. Pasar merespons perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait arah suku bunga, yang mendorong investor kembali memburu aset berdenominasi dolar AS.
Kondisi ini diperkuat oleh sikap investor global yang cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Akibatnya, permintaan terhadap mata uang dolar meningkat dan menekan nilai tukar rupiah di pasar valuta asing.
Dari sisi domestik, pergerakan pasar saham dan obligasi juga turut memengaruhi rupiah. Ketika pasar keuangan dalam negeri melemah, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat karena arus modal asing keluar dari pasar.
Memasuki perdagangan siang hingga sore hari, rupiah bergerak mendekati level Rp16.800 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan masih cukup kuat dan belum sepenuhnya mereda hingga akhir sesi perdagangan.
Fluktuasi nilai tukar ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi, terutama bagi sektor yang bergantung pada impor. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku dan operasional bagi pelaku usaha yang menggunakan mata uang asing.
Di sisi lain, sektor berorientasi ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai saat dikonversi ke rupiah.
Bank Indonesia terus mencermati pergerakan nilai tukar secara ketat untuk menjaga stabilitas moneter. Otoritas moneter memiliki berbagai instrumen kebijakan yang dapat digunakan guna meredam volatilitas rupiah yang berlebihan.
Pelaku pasar menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, terutama data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan bank sentral negara maju.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif dalam kisaran tertentu. Investor dan pelaku usaha diimbau untuk mencermati perkembangan pasar global serta menyiapkan strategi yang tepat dalam menghadapi dinamika nilai tukar.(*)
