Rupiah Dibayangi Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS, Pasar Keuangan Siaga Pekan Depan

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada pekan depan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sejumlah pengamat bahkan memprediksi mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat apabila sentimen negatif terus berlanjut.

Prediksi tersebut muncul setelah rupiah terus mengalami pelemahan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan eksternal seperti konflik geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, dan penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang memicu pelemahan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut beban impor energi menjadi salah satu ancaman serius terhadap stabilitas rupiah. Kenaikan harga minyak mentah dunia dinilai membuat kebutuhan dolar AS meningkat sehingga memperbesar tekanan terhadap nilai tukar domestik.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah sempat mencatat level terlemah sepanjang sejarah modern dengan menyentuh kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat pasar keuangan nasional berada dalam tekanan besar.

Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain masuk ke pasar valuta asing, bank sentral juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin demi meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

Meski demikian, sebagian analis menilai langkah tersebut belum cukup kuat jika tekanan global terus meningkat. Arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang masih menjadi ancaman utama bagi stabilitas rupiah dalam jangka pendek.

Pemerintah juga mulai menyiapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga pasokan dolar di dalam negeri. Salah satunya melalui aturan baru yang mewajibkan eksportir menyimpan devisa hasil ekspor di bank nasional.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai dapat memberi keuntungan bagi sektor ekspor karena harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun para pelaku industri menilai manfaat tersebut tidak otomatis mampu menutup dampak negatif dari kenaikan biaya impor.

Kondisi rupiah yang terus tertekan juga memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor dan potensi inflasi domestik. Jika pelemahan berlangsung terlalu lama, daya beli masyarakat dikhawatirkan ikut terkena dampaknya.

Sejumlah ekonom meminta pemerintah dan Bank Indonesia menjaga koordinasi agar sentimen pasar tidak semakin memburuk. Stabilitas fiskal dan kepercayaan investor disebut menjadi faktor penting untuk menahan laju pelemahan rupiah.

Kini perhatian pelaku pasar tertuju pada pergerakan dolar AS dan perkembangan konflik global dalam beberapa hari ke depan. Jika tekanan eksternal belum mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dan berpotensi mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.