Rupiah Longsor ke Rp17.858 per Dolar AS, Tekanan Global Kian Berat

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda kali ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah 57 poin atau sekitar 0,32 persen ke posisi Rp17.858 per dolar AS pada pagi perdagangan. Sementara indeks dolar AS menguat ke level 99,34.

Pelemahan rupiah disebut dipicu meningkatnya sentimen risk off di pasar global setelah konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran membuat investor memburu aset safe haven seperti dolar AS.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi tekanan dari arus modal keluar dan ketidakpastian perdagangan internasional. Situasi tersebut membuat rupiah semakin rentan terhadap penguatan dolar AS.

Analis pasar uang menilai pelemahan rupiah saat ini terjadi hampir merata di berbagai mata uang negara berkembang. Investor global cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen berbasis dolar.

Di sektor perbankan, kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar Indonesia juga mengalami kenaikan. Bank Central Asia mematok kurs jual e-rate di level Rp17.850 per dolar AS, sedangkan Bank Mandiri berada di kisaran Rp17.835.

Sementara itu, kurs beli dolar AS di sejumlah bank berada pada rentang Rp17.535 hingga Rp17.740 per dolar AS tergantung jenis transaksi dan layanan perbankan yang digunakan nasabah.

Bank Indonesia sebelumnya menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan instrumen moneter lainnya. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga volatilitas tetap terkendali.

Pelaku usaha impor menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah. Kenaikan biaya pembelian barang dari luar negeri berpotensi meningkatkan harga sejumlah produk di dalam negeri.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah masih bisa dikendalikan apabila tensi geopolitik global mereda dan arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Stabilitas ekonomi domestik dinilai tetap menjadi faktor penting menjaga kepercayaan investor.

Pasar kini menantikan langkah lanjutan Bank Indonesia dan perkembangan situasi global dalam beberapa hari ke depan. Jika tekanan eksternal terus meningkat, rupiah berpotensi kembali bergerak melemah pada perdagangan selanjutnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.