Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Rabu (28/1/2026) berlangsung kontras dan mengejutkan. Nilai tukar rupiah tercatat menguat pada perdagangan pagi, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan hebat hingga anjlok hampir 7 persen dalam waktu singkat.
Pada awal perdagangan, rupiah menunjukkan performa positif dengan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan ini mencerminkan respons awal pelaku pasar terhadap stabilitas makroekonomi domestik serta optimisme jangka pendek di pasar valuta asing.
Namun kondisi tersebut tidak sejalan dengan situasi di pasar saham. Sejak pembukaan, IHSG langsung dibayangi aksi jual besar-besaran yang membuat indeks terperosok tajam dan bergerak cepat menuju zona merah dalam hitungan menit.
Tekanan jual yang masif menyebabkan IHSG turun hingga mendekati 7 persen dan menyentuh level terendah harian di kisaran 8.300-an. Pelemahan ini menjadi salah satu koreksi terdalam yang terjadi dalam satu hari perdagangan sepanjang awal tahun 2026.
Aksi jual terjadi hampir merata di seluruh sektor, dengan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama investor. Tekanan terbesar terlihat pada sektor keuangan, infrastruktur, dan energi yang mencatat penurunan signifikan.
Kondisi pasar yang sangat volatil mendorong otoritas bursa mengambil langkah pengamanan dengan menghentikan sementara perdagangan saham. Kebijakan ini bertujuan meredam kepanikan dan memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencermati kondisi secara lebih rasional.
Anjloknya IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen global dan teknikal, termasuk kekhawatiran investor terhadap kebijakan indeks global serta perubahan alokasi portofolio investor institusi. Situasi tersebut mendorong peralihan dana secara cepat dari aset berisiko.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual agresif, terutama pada saham-saham unggulan yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Arus keluar dana asing mempercepat tekanan terhadap IHSG dan memperdalam pelemahan pasar.
Di sisi lain, pasar valuta asing relatif lebih stabil. Rupiah yang menguat di pagi hari menunjukkan adanya aliran dana yang masih bertahan di instrumen berbasis mata uang, meskipun sentimen negatif membayangi pasar saham.
Perbedaan arah antara rupiah dan IHSG menunjukkan terjadinya pergeseran strategi investor, di mana sebagian pelaku pasar memilih menahan posisi di pasar uang sambil mengurangi eksposur di pasar saham.
Analis menilai gejolak ini bersifat jangka pendek, namun tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kepercayaan investor apabila volatilitas berlanjut. Stabilitas kebijakan dan komunikasi otoritas dinilai krusial dalam menjaga kepercayaan pasar.
Hingga perdagangan berlanjut, pelaku pasar masih mencermati perkembangan selanjutnya serta menunggu sinyal pemulihan. Investor diimbau tetap mencermati fundamental dan tidak terpancing kepanikan di tengah dinamika pasar yang sedang bergejolak.(*)
