Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mencuri perhatian pasar finansial Asia pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026, setelah dibuka dengan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pagi hari, rupiah berada di level sekitar Rp16.846 per dolar AS, menguat sekitar 0,25 persen dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya, menandakan respon positif pasar terhadap sejumlah data ekonomi global terbaru.
Analis pasar menyatakan bahwa penguatan rupiah dalam sesi pagi ini tak lepas dari gejolak nilai dolar AS yang melemah tajam di pasar internasional. Dolar AS berada di bawah tekanan setelah sejumlah data ekonomi menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan, sehingga investor mulai bergeser dari aset berdenominasi dolar menuju mata uang lainnya.
Salah satu faktor utama yang dirujuk para pelaku pasar adalah data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang baru dirilis dan dinilai berada jauh di bawah ekspektasi. Pelemahan ini kemudian membuat dolar AS kehilangan sebagian kekuatannya, yang berdampak langsung pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Selain data ekonomi, sentimen negatif terhadap dolar AS juga diperkuat oleh keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif impor yang sebelumnya diberlakukan. Putusan ini dipandang sejumlah analis sebagai kejutan pasar yang menambah tekanan terhadap performa dolar dalam jangka pendek.
Pergerakan rupiah yang menguat ini juga selaras dengan tren yang terjadi pada beberapa mata uang utama Asia lainnya. Sejumlah mata uang regional seperti yen Jepang, baht Thailand, dan peso Filipina turut mencatat penguatan terhadap dolar AS, mencerminkan tren pelemahan dolar secara luas di pasar global pagi ini.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi bergerak di kisaran yang relatif ketat sepanjang perdagangan hari ini. Analis memperkirakan rupiah akan tetap berada di rentang sekitar Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS, tergantung pada kelanjutan sentimen yang mempengaruhi dolar.
Penguatan mata uang Garuda juga bisa dipengaruhi oleh dinamika domestik, termasuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan dan kondisi ekonomi Indonesia sendiri yang masih mencatat pertumbuhan dan stabilitas inflasi yang relatif terjaga. Faktor-faktor ini sering menjadi penopang moral pasar terhadap nilai tukar.
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter juga terus mencermati pergerakan kurs dan kondisi pasar global, setelah beberapa pekan terakhir rupiah menunjukkan fluktuasi akibat sentimen eksternal seperti perubahan dalam arah suku bunga dan strategi investasi global.
Dalam konteks global, data ekonomi AS yang lemah tidak hanya berdampak pada kekuatan dolar tetapi juga menjadi sinyal bagi investor untuk mencari aset yang lebih berisiko moderat, termasuk mata uang negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Beberapa ekonom menyebut bahwa meskipun rupiah menguat terhadap dolar, pergerakan ini merupakan cerminan dinamika pasar sehari-hari yang masih sangat bergantung pada arus modal global dan sentimen risiko investor internasional. Oleh karena itu, volatilitas masih diantisipasi dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.
Para pelaku pasar kini juga memantau rilis data ekonomi domestik berikutnya serta pergerakan suku bunga global yang dikeluarkan oleh bank sentral utama seperti Federal Reserve AS dan Bank Indonesia, yang dapat memberikan arah lebih jelas terhadap pergerakan rupiah dalam jangka menengah.
Dengan berbagai faktor eksternal dan domestik yang masih berpengaruh terhadap nilai tukar, rupiah tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik perhatian investor, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perdagangan hari ini diperkirakan akan tetap dinamis dengan potensi lonjakan volatilitas di sesi berikutnya.(*)
