Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat pagi menunjukkan penguatan tipis, tercatat berada di level sekitar Rp 16.725 per dolar AS.
Penguatan ini sebenarnya sangat tipis, hanya sekitar 0,02 persen dari level sebelumnya yang berada di Rp 16.728 per dolar AS.
Beberapa analis menilai bahwa penguatan ini hanya bersifat sementara karena banyak faktor eksternal masih memberi tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah kebijakan suku bunga AS yang belum menunjukkan arah penurunan dengan pasti.
Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah proposisi dari kebijakan moneter dalam negeri. Pasar mencermati sikap bank sentral Indonesia dan bagaimana responnya terhadap tekanan eksternal dan domestik.
Meski demikian, penguatan rupiah setidaknya memberi sedikit ruang optimisme bagi pelaku ekonomi dan importir yang selama ini dibebani oleh dolar yang lebih mahal. Namun, bagi eksportir penguatan ini bisa berdampak terhadap daya saing harga mereka di pasar internasional.
Di dalam negeri, pelaku pasar valuta asing menyebut bahwa meski rupiah menguat, mereka tetap waspada terhadap dini hari dan sentimen global yang bisa membuat arah berubah dengan cepat.
Salah satu perhatian utama adalah rapat kebijakan moneter di AS dan pernyataan pejabat Federal Reserve yang akan datang, yang dipastikan akan memengaruhi arus modal ke pasar berkembang termasuk Indonesia.
Bank Indonesia juga disebut‑sebut sedang mempertimbangkan intervensi atau langkah kebijakan bila tekanan eksternal meningkat. Hal ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa rupiah tetap dipantau dengan intensif.
Untuk jangka pendek, prediksi sejumlah analis adalah rupiah akan bergerak di rentang yang cukup sempit karena kombinasi faktor internal yang relatif stabil dan tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Bagi masyarakat umum, penguatan rupiah ini bisa berarti biaya impor barang dan layanan bisa tidak naik sebesar sebelumnya, meski dampak langsung ke harga barang belum tentu besar dalam waktu cepat.
Ke depan, yang paling menentukan adalah bagaimana Indonesia menjaga keseimbangan fiskal dan moneter agar penguatan rupiah ini bisa berlanjut dan tidak hanya sebuah “kilasan” sesaat di tengah gejolak global.(*)
