Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren positif pada Kamis, 26 Februari 2026, di tengah sentimen pasar global yang dinamis dan dorongan eksternal yang turut menekan greenback. Pada penutupan perdagangan di pasar spot, rupiah berhasil menguat sekitar 41–56 poin ke kisaran Rp16.744–Rp16.759 per dolar AS, mencatatkan apresiasi yang menarik perhatian pelaku pasar domestik maupun internasional.
Pergerakan rupiah ini dipandang sebagai respons pasar terhadap pelemahan dolar AS yang meluas terhadap beberapa mata uang utama global, termasuk rupiah. Indeks dolar yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama melemah, memberikan ruang bagi mata uang pasar berkembang untuk menguat.
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa dolar AS turun ke sekitar Rp16.757–Rp16.762 pada sesi perdagangan pagi, sebelum kemudian menguat lebih jauh di akhir hari menjadi Rp16.759 per USD. Analis menyebut bahwa tren pelemahan dolar tersebut menjadi salah satu pemicu utama penguatan rupiah.
Penguatan rupiah juga didukung oleh sentimen risk-on di pasar keuangan global, di mana investor kembali melirik aset berisiko setelah sebelumnya mendapatkan tekanan akibat kekhawatiran resesi dan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini menyebabkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar menurun sementara mata uang Asia seperti rupiah menguat.
Analis pasar uang menilai bahwa pernyataan dari pejabat Presiden AS yang menegaskan sikap terhadap kebijakan tarif dagang ikut memberi tekanan pada dolar, sehingga rupiah mendapatkan momentum apresiasi. Pernyataan tersebut dianggap dapat menciptakan ketidakpastian di pasar mata uang global sehingga permintaan dolar menurun.
Selain itu, indikator teknikal rupiah pada perdagangan hari ini menunjukkan pembalikan arah setelah beberapa waktu sebelumnya bergerak relatif stabil. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen makro global yang mulai membaik, termasuk ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve yang kini dipandang kurang mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Meski demikian, para pengamat tetap mencermati bahwa pergerakan rupiah berpotensi mengalami volatility atau gejolak seiring dengan perkembangan ekonomi global dan data fundamental yang dirilis dari sejumlah negara maju. Hal ini penting diperhatikan pelaku pasar ketika membuat strategi perdagangan maupun investasi.
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter juga dipandang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing bila diperlukan. Kebijakan yang bersifat preventif dan proaktif menjadi kunci di tengah dinamika arus modal asing dan risiko eksternal.
Pergerakan rupiah pada Kamis ini juga berbicara banyak soal arah aliran investasi di pasar keuangan Indonesia. Penguatan rupiah dapat mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi domestik, terutama ketika nilai tukar stabil di tengah tekanan global.
Beberapa kalangan investor menilai bahwa rupiah yang menguat memberi ruang bagi pelaku usaha untuk lebih leluasa dalam melakukan transaksi internasional, termasuk pembayaran impor dan investasi luar negeri. Ini juga dapat berdampak pada penurunan harga beberapa barang impor yang dibayar dalam dolar.
Namun, tantangan tetap ada karena rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, arus modal asing, serta kebijakan moneter utama di negara maju. Semua hal tersebut menjadi variabel yang perlu diperhatikan dalam jangka menengah hingga panjang.
Dengan penguatan yang terlihat pada perdagangan Kamis ini, pelaku pasar kini terus memantau indikator ekonomi berikutnya, termasuk data inflasi, neraca perdagangan, dan kebijakan suku bunga yang diperkirakan akan memberi arah baru bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pekan-pekan mendatang.(*)
