Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan tajam dengan menyentuh level Rp17.123 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menjadi salah satu titik terendah dalam sejarah pergerakan mata uang Garuda.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang terus berlanjut di pasar global. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal April 2026. Mata uang Indonesia bahkan sempat menembus level Rp17.100 per dolar AS beberapa hari sebelumnya.
Kondisi ini tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mata uang negara berkembang lainnya. Penguatan dolar AS terjadi secara luas terhadap mata uang Asia dan global.
Salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Hal ini mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Ketegangan tersebut memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian global.
Dampaknya, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS. Kondisi ini semakin menekan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia pun terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas mata uang. Langkah ini dilakukan melalui pasar spot hingga instrumen moneter lainnya.
Meski mengalami tekanan, pemerintah menilai kondisi ini masih dalam kendali. Fundamental ekonomi Indonesia disebut tetap kuat untuk menghadapi gejolak global.
Namun, pelemahan rupiah tetap berpotensi berdampak pada berbagai sektor, termasuk kenaikan harga barang impor dan tekanan terhadap inflasi.
Dengan kondisi global yang masih dinamis, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dalam waktu dekat. Stabilitas pasar kini sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik dunia.(*)

