Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan pagi hari, Jumat (6/3/2026). Mata uang Garuda melemah cukup tajam hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.
Pada pembukaan perdagangan di pasar spot, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp16.900-an per dolar AS. Posisi ini menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang juga berada di zona merah.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu faktor utama berasal dari eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Situasi tersebut memicu sentimen risk-off di pasar global. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke instrumen investasi yang dinilai lebih stabil.
Kondisi geopolitik yang memanas juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Indonesia sebagai negara yang masih mengimpor energi cukup besar menjadi rentan terhadap dampak kenaikan harga komoditas tersebut.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan devisa. Hal ini pada akhirnya dapat memperbesar permintaan dolar AS di dalam negeri.
Selain faktor geopolitik, penguatan indeks dolar AS juga ikut menekan nilai tukar rupiah. Ketika dolar menguat secara global, mata uang negara berkembang umumnya ikut tertekan.
Analis pasar menilai pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter global. Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi.
Suku bunga tinggi di negara maju biasanya menarik arus modal global kembali ke negara tersebut. Dampaknya, dana asing keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Inflasi domestik dinilai terkendali dan kinerja perdagangan masih cukup stabil untuk menopang stabilitas rupiah.
Namun jika ketegangan geopolitik global terus meningkat dan harga energi tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan nasional.(*)

