Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Pergerakan tersebut terjadi setelah rupiah ditutup di sekitar Rp17.978 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.
Pada awal perdagangan, rupiah tercatat melemah sekitar 0,12 persen dan bergerak di sekitar level Rp18.000 per dolar AS. Data perdagangan menunjukkan tekanan tersebut berlangsung seiring dengan pelemahan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS.
Kondisi pasar valuta asing tidak terlepas dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Investor saat ini menunggu serangkaian data ekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian Negeri Paman Sam.
Salah satu perhatian pasar adalah data inflasi PCE yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini. Selain itu, data manufaktur dan ketenagakerjaan Amerika Serikat juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ekspektasi mengenai kebijakan suku bunga AS turut memengaruhi pergerakan dolar. Ketika investor melihat peluang suku bunga AS bertahan tinggi, aset berdenominasi dolar dapat menjadi lebih menarik sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Dari sisi komoditas, harga minyak dunia juga bergerak tinggi. Brent dilaporkan berada di atas US$100 per barel, sedangkan minyak WTI juga berada di atas US$90 per barel pada perdagangan Selasa.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, peningkatan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan impor dan memberikan tekanan terhadap neraca eksternal serta anggaran negara.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia terus mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI menyatakan intervensi dilakukan secara konsisten melalui pasar valuta asing untuk mengendalikan volatilitas dan menjaga pergerakan rupiah.
BI juga sebelumnya menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil aset Amerika Serikat, serta potensi pergeseran arus modal dari negara berkembang menuju negara maju.
Pergerakan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS belum berarti nilai tersebut akan bertahan sepanjang perdagangan. Pasar valuta asing bergerak dinamis sehingga posisi rupiah dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen global, arus modal, dan kebijakan otoritas moneter.
Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi Amerika Serikat, pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik, serta respons Bank Indonesia. Faktor-faktor tersebut akan menjadi bagian penting dalam menentukan dinamika rupiah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global.(*)

