Jakarta, Semangatnews.com – Dalam sidang umum UNESCO ke‑43 di Kota Samarkand, Uzbekistan, Selasa (4 November 2025), terjadi momen bersejarah bagi Indonesia ketika bahasa Indonesia digunakan secara resmi oleh perwakilan negara.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tampil sebagai pembicara yang membacakan pernyataan nasional menggunakan bahasa Indonesia di forum internasional tersebut.
Pembukaan pidato Pak Mu’ti menarik perhatian karena ia memulainya dengan pantun khas Indonesia sebagai salam dan wujud ekspresi budaya.
“Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan. Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,” tuturnya dalam pidato itu.
Ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia selama ini telah berfungsi sebagai jembatan pemersatu di antara lebih dari 17 000 pulau, 700 bahasa daerah, dan 1 300 etnik di Nusantara.
Lebih jauh, Mu’ti memaparkan bahwa pemerintah Indonesia melihat pendidikan, sains, kebudayaan, dan komunikasi sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan global, bukan sekadar kekuatan ekonomi atau dominasi teknologi.
Kebijakan “Pendidikan Bermutu untuk Semua” menjadi salah satu sorotan dalam sambutannya, bersama dengan gerakan literasi digital, integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan, dan upaya memperkuat kesejahteraan guru‑guru di seluruh wilayah Indonesia.
Momen ini sekaligus menegaskan bahwa keputusan Sidang Umum UNESCO sebelumnya telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja ke‑10 organisasi tersebut, memberikan arti simbolis dan nyata terhadap posisi Indonesia di forum global.
Tanggapan di dalam negeri pun beragam, dari rasa bangga sampai harapan agar kehadiran bahasa Indonesia di panggung dunia tidak hanya bersifat simbolis, tapi mampu diterjemahkan ke dalam kerjasama dan implementasi desain pendidikan global.
Di akhir pidatonya, Mu’ti menyampaikan kembali pantun penutup: “Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan. Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian.”
Khususnya bagi komunitas pendidikan dan kebudayaan Indonesia, hari ini menjadi titik baru bahwa pancaran bahasa nasional dapat melangkah ke arena dunia, sekaligus tantangan agar momentum ini terus dikawal agar tidak berhenti sebagai sejarah semata.(*)
