Serangan Israel di Tengah Gencatan Senjata, 254 Tewas dan Ribuan Luka di Lebanon

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon memicu tragedi kemanusiaan besar dengan ratusan korban jiwa. Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah momentum gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan.

Berdasarkan laporan terbaru, sedikitnya 254 orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Sementara jumlah korban luka mencapai lebih dari 1.000 orang dalam waktu singkat.

Serangan terjadi pada Rabu, 8 April 2026, dengan target sejumlah wilayah strategis seperti Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. Serangan ini disebut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam konflik terbaru di kawasan tersebut.

Ledakan besar dilaporkan terjadi hampir bersamaan di berbagai titik. Dalam kurun waktu sekitar 10 menit, lebih dari 100 serangan dilancarkan ke wilayah padat penduduk.

Akibat intensitas serangan yang tinggi, rumah sakit di Beirut kewalahan menangani korban. Banyak korban dilaporkan dalam kondisi kritis, termasuk perempuan dan anak-anak.

Serangan ini memicu kecaman internasional, termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut dampaknya sebagai “mengerikan”. Situasi tersebut dinilai memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah terjadi sebelumnya.

Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas milik kelompok Hizbullah. Namun, banyak pihak menilai serangan juga mengenai kawasan sipil.

Kontroversi muncul karena serangan terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan.

Israel menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup wilayah Lebanon. Pernyataan ini bertentangan dengan sejumlah pihak yang menganggap Lebanon termasuk dalam kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, kelompok Hizbullah dilaporkan menghentikan serangan sementara sebelum insiden ini terjadi. Namun, serangan Israel memicu kembali eskalasi konflik di perbatasan.

Peristiwa ini semakin mempertegang situasi di Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang lebih besar.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.