Serangan Israel ke Lebanon Kembali Memanas Usai Kunjungan Paus Leo XIV

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Israel dan Lebanon kembali memanas hanya beberapa hari setelah kunjungan singkat Pope Leo XIV ke Beirut. Serangan udara baru Israel dilaporkan menghantam sejumlah wilayah di selatan Lebanon, menggagalkan harapan sementara atas stabilitas pasca kunjungan tersebut.

Serangan dialami oleh sejumlah kota di Lebanon selatan, termasuk wilayah-wilayah strategis yang diklaim sebagai basis militer kelompok bersenjata. Warga sipil di sekitar area diminta segera mengungsi untuk menghindari bahaya.

Kekerasan itu mengejutkan banyak pihak karena kunjungan Paus Leo XIV diharapkan membawa momentum perdamaian. Selama kunjungannya, paus menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi lintas agama di Lebanon — sebuah pesan yang diterima dengan harapan besar oleh masyarakat setempat.

Namun ketenangan semu itu segera hilang. Sejumlah laporan menyebut bahwa militer Israel melancarkan serangan ke sasaran yang diklaim sebagai infrastruktur militer kelompok bersenjata, termasuk lokasi di Mahrouna, Jbaa, Majadal, dan Baraasheet.

Serangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata lama antara Israel dan Lebanon telah runtuh. Meski kesepakatan tersebut diumumkan pada November 2024, catatan serangan udara terus menumpuk — hingga kini tercatat lebih dari 100 serangan udara dalam setahun di selatan Lebanon.

Pemerintah Lebanon dan kelompok milisi lokal, termasuk Hizbullah, menyatakan bahwa agresi Israel tidak hanya menyasar kekuatan militer, tetapi juga menggoyahkan stabilitas sosial dan keamanan warga sipil. Mereka menilai serangan ini sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional.

Sementara itu, sejumlah pemimpin dunia dan organisasi internasional menyerukan de-eskalasi segera. Banyak yang mengingat kembali pesan perdamaian Pope Leo XIV yang menekankan pentingnya dialog dan toleransi antarumat beragama — justru ketika Lebanon tengah terancam kembali oleh perang.

Di tengah konflik yang terus berulang, warga sipil Lebanon kembali menjadi korban terbesar. Ketidakpastian dan trauma dari serangan udara sebelumnya membuat banyak keluarga mempertimbangkan kembali keberadaan mereka di daerah konflik. Banyak yang berharap agar jalur diplomasi — bukan senjata — kembali menjadi prioritas.

Namun dengan agresi baru ini, prospek perdamaian terasa jauh dari jangkauan. Situasi kini memunculkan pertanyaan: apakah Lebanon akan kembali terjerumus ke dalam perang terbuka, atau ada jalan untuk menghentikan spiral kekerasan sebelum skala destruksi lebih jauh?

Bagi komunitas internasional, serangan ulang ini menjadi sinyal bahwa konflik Lebanon–Israel masih jauh dari selesai. Kunjungan religius dan diplomatik saja — seperti kedatangan paus — belum cukup memutus rantai kekerasan.

Kini dunia menunggu respon nyata: apakah akan ada upaya baru untuk mencegah korban sipil lebih banyak, atau justru kekerasan akan terus berulang, meninggalkan jejak penderitaan panjang di tanah Lebanon.

Ketegangan terbaru ini menekankan bahwa solusi damai di wilayah Timur Tengah membutuhkan kerja sama lebih luas dari seluruh pihak terkait, baik negara-negara regional maupun komunitas internasional, untuk mencegah eskalasi lebih jauh.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.