Siapa “Brigadir J Mallaby” ? Hingga Meledaknya Pertempuran 10 November | Hari Pahlawan 2021

oleh -
Siapa "Brigadir J Mallaby" ? Hingga Meledaknya Pertempuran 10 November | Hari Pahlawan 2021

SEMANGATNEWS.COM – Kematian Mallaby menjadi peristiwa besar permusuhan di Surabaya seputar kemerdekaan Indonesia, dan memicu aksi militer pembalasan oleh pasukan Inggris di kala itu.

Pasukan Inggris memerintahkan Indonesia untuk menyerah dan melancarkan serangan balik skala besar pada 10 November.

Mallaby , sangat kecewa dengan atasannya saat mendarat di Surabaya. Memang, dalam situasi sulit yang disebabkan oleh permusuhan rakyat Surabaya, Inggris memerintahkan untuk mengeluarkan ultimatum menuntut agar Indonesia menyerahkan senjata mereka.

Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan kesepakatan Mallaby dengan beberapa tokoh perjuangan Surabaya yang sepakat bahwa senjata yang dilucuti hanya milik tentara Jepang.

Baca Juga:  [Caption] Ucapan Selamat Hari Sumpah Pemuda 2021, 10 Contoh Kata Bijak Menginspirasi di Twitter Hari Ini

Hal itu terungkap dalam surat yang ia kirimkan kepada istrinya, di mana Mallaby menulis:

“Komandan merusak segalanya dengan membagikan selebaran berisi ultimatum dari pesawat yang lepas landas dari Betawi tanpa memberi tahu saya isinya terlebih dahulu”.

Pamflet ini merupakan tamparan yang memalukan sebagai perwira senior.

Saat itu, ia sedang berkeliling Surabaya di bawah bendera putih untuk menyebarkan berita tentang perjanjian gencatan senjata dan menyelamatkan beberapa pasukan Mahratta yang terdampar , meskipun diperingatkan akan bahaya oleh pasukan Angkatan 136 .

Baca Juga:  Kapan Hari Libur Maulid Nabi 2021? Kalau Hari Senin Kejepit! ASN Dilarang Bepergian

Akhirnya Malaby meninggal secara tragis pada 30 Oktober 1945. Tidak jelas apakah Mallaby tewas akibat tembakan pemuda Indonesia tersebut atau justru akibat granat yang dilemparkan.

Jenazah Malaby yang terbakar bisa dikenali dari jam tangan bekas. Malaby selalu memakai dua jam tangan. Jenazah Malaby kemudian dimakamkan di Pemakaman Kembang kuning dan kemudian dipindahkan ke JWC pada tahun 1960-an, sebuah fasilitas pemakaman Sekutu di Menteng pulo, Jakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.