Soliloquy Pameran Tunggal Herisman Tojes, Memikat

oleh -

Soliloquy Pameran Tunggal Herisman Tojes, Memikat

Semangatnews.com, Padang – Pembukaan pameran tunggal (Solo Exhibition) pelukis Herisman Tojes (61 th) yang mengangkat tema “Soliloquy” (Nyanyian Sunyi) di galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumbar, Jalan Diponegoro 31 Padang Senin malam (9/9) berlangsung meriah ditandai membludaknya pengunjung menyaksika karya – karya memikat yang hadir di ruang pameran.

Pameran tunggal bagi Herisman Tojes menampilkan 25 lukisan dalam aneka format dan puluhan sketsa hitam putih yang digarapnya selama hampir 33 tahun berkarya seni rupa, terutama semenjak ia memulai kariernya sebagai pendidik dan pengajar di jurusan seni lukis SMSR (sekarang SMKN 4 Padang).

Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, H. Muasri, dalam sambutan pembukaan pameran tunggal Herisman Tojes, menyebutkan, kegiatan pameran tunggal ini sebetulnya sudah jauh-jauh hari dan sudah harus dilaksanakan bulan oktober 2018 lalu bertepatan jatuh tempo masa pensiun Herisman Tojes sebagai pendidik dan pengajar di SMSR Negeri Padang yang saat itu memasuki usia pensiun sebagai pendidik dan pengajar dalam usia 60 tahun.

Tapi karena ada persoalan teknis di Taman Budaya Sumatera, maka barulah tahun ini dapat dilaksanakan yang menampilkan puluhan karya lukis dan sketsa hitam putih, ujar Muasri.

Menurut Muari, selaku Unit Pelaksana Teknis Daerah, kita mengamati karya-karya yang ditampilkan, sesungguhnya ada keterbacaan bahwa potensi seni rupa di Sumatera Barat tetap eksis dan dinamis yang senantiasa melahirkan karya-karya berkualitas, terutamna yang dihasilkan para seniman seni rupa, termasuk karya Herisman Tojes selalu setia berkarya seni rupa juga sebagai pendidik di sekolah seni rupa itu, tambah Muasri lagi.

Kurator pameran, Zirwen Hazry didampingi Iswandi Bagindo Perpatiah sebelum menyampaikan pengantar kuratorialnya dihadapan pengunjung, ia sangat merasa sedih karena kehilangan sahabat terbaiknya satu kelas seangkatannya semasa di SMSR Negeri Padang dulu, Indra Adek yang baru saja meninggal dunia, Minggu, (8/9) kemarin.

Saya, Indra Adek termasuk Iswandi Bagindo Perpatiah dan beberapa teman lain seperti Zardi Syahrir dulunya adalah murid Herisman Tojes, ujar Zirwen Hazry sembari meminta pengunjung untuk bersama-sama menekurkan kepala sejenak sambil berdoa mengirimkan alfatihah untuk almarhum Indra Adek.

Menurut Zirwen Hazry, Opung demikian panggilan Herisman Tojes dimata Zirwen sejak awal senantiasa bergumul pada ranah “Imagination content” dalam upaya membendakan kegelisahan. Abstraksi visual yang ditampilkan hanya perlambangan dan setiap curahan perasaan, firasat, konflik bathin yang paling dalam yang secara kasat mata tampak jelas dan dapat dirasakan antara pertautan bathin dengan elemen-elemen visual yang dihadirkan.

Muharyadi pengamat seni rupa dan kurator dalam tulisannya di katalogus pameran tunggal Herisman Tojes berjudul “Aransemen Garis dan Warna” , menyebutkan, kekuatan garis dan warna secara umum pada karya-karya Tojes secara konseptual memcerminkan tuturan subjektif yang dapat diterjemahkan melalui obyek, tema atau gagasan karya secara refresentatif. Yang muncul kemudian adalah harmoni garis dan warna menjadi kekuatan disebagian karya-karyanya.

Lihat sejumlah sketsa hitam putih sebagai kekuatan di luar lukisan dalam puluhan tahun terakhir, terlihat harmoni garis-garis yang direfresentasikan melalui bentuk “realis ekspresif” sebagai embrio karya-karya lukisnya. Sebagian sketsa-sketsanya merupakan cikal bakal karya-karyanya. Kekuatan sketsa-sektsanya terlihat melalui spontanitas garis, liukan garis-garis, garis melingkar, garis bergelombang membentuk wujud dan obyek sketsa, tulis Muharyadi.

Pada pembukaan pameran itu juga dimeriahkan pembacaan puisi oleh Ii Tamsin dan kolaborasi musik saxsaphon dan piano yang mendapat applaus pengunjung pameran tunggal Herisman Tojes itu. (FR)