Jakarta, Semangatnews.com – Pukul 17.00 WIB hari ini, ratusan peserta dan simpatisan Monumen Nasional (Monas) bakal berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara Reuni Akbar 212 2025. Panitia telah menetapkan pintu masuk berada di area Pintu Gambir atau sisi tenggara Monas.
Acara dibuka dengan rangkaian doa, zikir, muhasabah, istigasah, serta salat gaib mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WIB. Zikir dan doa dipersembahkan khusus untuk korban bencana alam di Sumatera dan Aceh, sekaligus sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap musibah yang melanda negeri.
Setelah agenda ibadah secara khidmat, akan dilanjutkan dengan prosesi kebangsaan — pembukaan ditandai dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pada pukul 21.00 WIB. Penyelenggara berharap agar momen tersebut bisa mempererat semangat persatuan di tengah keragaman.
Selama dua jam berikutnya, hingga pukul 23.00 WIB, acara akan diisi dengan sambutan dari sejumlah tokoh ormas dan pejabat pemerintahan. Dalam undangan yang disebar, panitia menyebut berharap kehadiran para pejabat tinggi: mulai dari presiden hingga para menteri serta tokoh politisi.
Menurut ketua panitia, tema reuni tahun ini adalah “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Merdekakan Palestina dari Penjajah”. Tema ini dinilai sebagai refleksi atas kondisi sosial-politik saat ini, sekaligus wujud keprihatinan terhadap berbagai isu, termasuk konflik internasional.
Pihak kepolisian pun telah bersiaga: sebanyak 2.511 personel gabungan dikerahkan untuk menjamin keamanan dan kelancaran acara. Pengamanan ini mencakup pengaturan arus lalu lintas di sekitar Monas yang diprediksi padat menjelang dan selama acara berlangsung.
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengimbau warga pengguna jalan untuk menghindari ruas Merdeka Barat, Timur, Utara, dan Selatan bila tidak ada keperluan mendesak. Sebab, lokasi sekitar Monas — terutama titik Harmoni, Tugu Tani, dan Sarinah — diprediksi akan mengalami kemacetan signifikan.
Menurut juru bicara panitia, pemilihan waktu sore hingga malam hari untuk reuni bukan tanpa pertimbangan. “Supaya lebih adem dan khusyuk,” ujarnya ketika ditanya soal perubahan jadwal dari biasanya yang digelar siang hari.
Tahun ini, reuni kembali digelar di Monas — lokasi yang telah menjadi saksi sejumlah gelombang aksi sejak Aksi 212 pada 2 Desember 2016. Sejak saat itu, reuni rutin digelar setiap tahun oleh para alumni aksi dan simpatisan, sebagai ajang silaturahmi sekaligus peringatan atas tuntutan awal yang pernah digemakan.
Meski pada beberapa edisi reuni sempat menuai kritik dan dianggap sebagai momentum politisasi, penyelenggara menegaskan bahwa Reuni 212 2025 difokuskan pada nilai kebangsaan, solidaritas sosial, dan doa bersama — serta misi kemanusiaan terhadap korban bencana maupun penderitaan di luar negeri.
Bagaimanapun, sorotan terhadap sejarah panjang Aksi 212 dan perjalanan politik di sekitarnya tetap membayangi setiap penyelenggaraan reuni. Bagi sebagian pihak, reuni tak sekadar ajang pertemuan, tapi juga simbol identitas yang terus dibawa ke hadapan publik.
Hari ini, mata publik akan tertuju ke Monas — apakah Reuni 212 akan berlangsung damai, khidmat, dan sesuai dengan niat yang dinyatakan panitia. Atau sebaliknya, apakah reuni akan kembali memancing kontroversi dan pro-kontra di tengah masyarakat. Semua akan terjawab malam ini.(*)
